Timika,papuaglobalnews.com – Pelaksanaan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 30 Kabupaten Mimika, Papua Tengah berlangsung khimad di Lapangan Upacara Puspem SP3 dalam suasana suka cita dengan udara tercemar dikepung kabut asap, Senin 12 Oktober 2026.

Para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang datang mengenakan pakaian tardisional masing-masing daerah, TNI-Polri, pramuka dan undangan lainnya sejak pagi sudah berada di lokasi. Mengenakan pakai adat masing-masing daerah sebagai bentuk pelestarian adat, budaya serta tradisi sebagai identitas diri.

Bertindak sebagai komandan upacara Evert Lukas Hindom, Kabag Ortal juga mengenakan pakai adat khas Papua.

Pukul 9.30 WIT Bupati Johannes Rettob mengenakan mahkota Papua dengan stel baju warna merah dipadukan celana hitam tiba di lokasi upacara. Turun dari mobil disambut Ananias Faot, Asisten I sekaligus melaporkan upacara sudah siap. Bupati kemudian didampingi ajudan berjalan menuju panggung upacara. Di sana Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong beserta jajan Forkompinda, pimpinan OPD sudah lebih dahulu berada di panggung.

Pukul 09.37 WIT penggerek bendera menaikan merah putih diirigin lagu Indonesia Raya. Selang tiga menit yakni pukul 09.39 WIT bendera merah putih berkibar di puncak tiang bendera.

Bertindak sebagai pembaca teks Pancasila Bupati Mimika, teks Pembukaan Undang-Undang 1945 oleh Fransiskus Bokeyau, Staf Ahli Bupati Bidang Kesejahteraan dan SDM Mimika yang juga Plt. Kepala BPBD Mimika. Sementara doa dipimpin oleh perwakilan agama Katolik  dari Kemenag Mimika.

Usai upacara diisi dengan penampilan tarian yang dibawakan 150 pelajar SMP dan SMA N 1 Mimika yang tergabung dalam Saka Bhayangkara Polres Mimika. Menyusul memutar film selayang pandang perjalanan Kabupaten Mimika oleh BRIDA dan doa syukur dipimpin Pdt. David Onawame.

Pdt. David dalam pesan firman Tuhan menyampaikan Tuhan telah memberikan Mimika sebagai kota dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah terutama tambang emas yang kini dikelola oleh PT Freeport Indonesia.

Ia mengajak masyarakat Mimika tanpa dibeda-bedakan suku dan agama wajib memelihara kerukunan dalam menciptakan kedamaian di tanah ini.

Kesempatan itu, Pdt. David mengharapkan untuk menjaga Mimika tetap damai dan bebas dari konflik perang harus memberantas segala bentuk peredaran minunam beralkohol. Menurutnya, alkohol menjadi sumber pemicu gangguan keamanan dan ketertiban di Timika selama ini.

Sementara Bupati Mimika Johannes Rettob dalam sambutan mengungkapkan Mimika masuk tiga dekade ini merupakan perjalanan sejarah yang penuh dinamika, tantangan, perjuangan, pengorbanan, serta berbagai capaian pembangunan yang telah diraih bersama.

Pada momentum hari ini, ia mengajak semua ihak memberikan penghormatan dan apresiasi kepada para pendiri, para pemimpin-pemimpin terdahulu, tokoh-tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para pejuang pembangunan, serta para perintis Kabupaten Mimika, serta seluruh masyarakat yang telah memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Mimika.

“Apa yang kita nikmati hari ini merupakan bagian dari hasil kerja keras dan perjuangan banyak pihak. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga, melanjutkan, dan menciptakan meningkatkan hasil pembangunan tersebut demi masa depan Mimika yang gemilang,” katanya.

John menyebutkan pada peringatan HUT ke-30 ini, mengangkat tema: “Mimika Rumah Kita, Bangkit dan Bergerak dari Kampung ke Kota Menuju Indonesia Emas”.

Menurutnya, pemilihan tema ini bukan sekadar rangkaian kata atau slogan peringatan hari jadi. Tema ini mengandung pesan, semangat, sekaligus arah bagi semua untuk membangun Kabupaten Mimika secara bersama-sama dengan mengedepankan persatuan, pemerataan, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat.

Ia menjelaskan makna pertama dari “Mimika Rumah Kita”.

Menurutnya, makna Mimika Rumah Kita ini mengandung pesan bahwa Kabupaten Mimika adalah rumah bersama bagi seluruh masyarakat, tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, latar belakang, maupun asal daerah.

Rumah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman, nyaman, damai, dan penuh harapan bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya.

“Karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga Mimika sebagai rumah yang harmonis, membangun kehidupan masyarakat yang saling menghormati, memperkuat toleransi, serta memelihara persaudaraan di tengah keragaman. Kita harus menyadari bahwa kekuatan Mimika terletak pada kebersamaan. Tidak ada pembangunan yang dapat berjalan dengan baik apabila masyarakatnya terpecah belah. Sebaliknya, dengan persatuan dan semangat gotong royong, berbagai tantangan akan dapat kita hadapi dan berbagai cita-cita dapat kita wujudkan. Mari kita jadikan Mimika sebagai rumah yang membanggakan bagi generasi sekarang dan rumah yang memberikan harapan bagi generasi yang akan datang,” pesannya.

Makna kedua tengan “Bangkit dan Bergerak dari Kampung ke Kota”.

“Pesan bangkit dan bergerak mengajak kita untuk tidak puas diri terhadap capaian yang telah diraih, tetapi harus melakukan pembenahan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat pembangunan sumber daya manusia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.”

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.