Intan Jaya,papuaglobalnews.com – Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua, Fritz Ramandey penyampaikan dirinya sudah kesekian kalinya mendatangi Kabupaten Intan Jaya untuk menangani persoalan kemanusiaan. Jika melewati depan Polsek melihat kuburan pelakunya sudah diproses hukum pada waktu itu.

“Bapak ibu saya sudah dengar baik-baik dan saya datang ke sini atas nama kemanusiaan. Saya sudah dengar baik dari bapak pastor, bapak guru dan seorang ibu. Semua ini kita tidak mempunyai pilihan lain. Semua yang kita sampaikan ini sebagai bentuk kecintaan kita untuk hak asasi manusia dan kita mau supaya tanah kita aman seperti dahulu kala,” ujar Fritz dalam penyataannya setelah menerima aspirasi tertulis dari perwakilan mahasiswa dalam aksi demo damai pada Sabtu 4 Juli 2026 di Lapangan Yokatapa Kabupaten Intan Jaya.

Aksi ini dalam menuntut keadilan dalam insiden bersenjata meninggalnya seorang ibu hamil bernama Melkiana Duwitau (31), beserta bayinya dalam kandungan, yang terjadi pada 2 Juli 2026 sekitar pukul 20.00 WIT di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa serta korban Oto Tigau, seorang tokoh agama dan korban lainnya.

Fritz dalam rekaman video berdurasi 7 menit 9 detik yang viral di grup whatsapp Komda Pemuda Katolik Papua Tengah bahwa dirinya sangat sedih seorang ibu hamil ditembak dan mati bersama bayinya dalam kandungan.

Ia menegaskan perempuan dan  anak dalam prinsip HAM merupakan kelompok rentan yang harus dilindungi dalam situasi apapun.

“Karena itu korban adalah perempuan atau anak baik pelakunya TNI-Polri maupun TPNPB-OPM, mereka patut kita alamatkan adalah pelaku pelanggaran HAM,” tegasnya di hadapan massa.

Sebagai pimpinan Komnas HAM di Papua yang telah berulang kali datang di berbagai daerah di Papua, Fritz menegaskan telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk memperjuangkan HAM bagi  orang Papua.

“Karena itu kami tidak bisa berjuang sendiri, mari kita berjuang bersama-sama,” ajaknya.