Timika,papuaglobalnews.com – Masyarakat dari enam kampung di Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, sejak 18 hingga 29 Juni 2026 memilih mengungsi ke balik gunung, kampung-kampung tetangga, serta ke pusat Kota Sugapa akibat situasi keamanan di wilayah tersebut.

Enam kampung yang terdampak yakni Kampung Dangoa, Mbamogo, Soali, Tausia, Balamai, dan Dangomba.

Hal itu disampaikan Elias Mujizau, S.Sos., selaku Ketua Tim Mediasi Penanganan Konflik bentukan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, kepada papuaglobalnews.com, Selasa malam 30 Juni 2026.

Elias menjelaskan, sejak Satuan Tugas (Satgas) melaksanakan operasi militer di wilayah tersebut, masyarakat meninggalkan kampung untuk menyelamatkan diri. Sebagian mengungsi ke kampung-kampung terdekat, berpencar di balik gunung, dan sebagian lainnya berada di Kota Sugapa.

Menindaklanjuti situasi tersebut, Bupati Intan Jaya Aner Maisini bersama Wakil Bupati Elias Igapa menggelar rapat koordinasi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terbatas bersama Tim Mediasi Penanganan Konflik di Kantor Bupati Intan Jaya, Selasa 30 Juni 2026, sekitar pukul 10.00-11.00 WIT.

Pertemuan tersebut dihadiri pimpinan Satuan Tugas, Komandan Sektor Barat, Dandim 1718/Intan Jaya, Kapolres Intan Jaya, serta perwakilan masyarakat pengungsi dari Kampung Dangoa, Soali, Mbamogo, Tausia, dan Balamai.

Rapat tertutup itu membahas langkah-langkah strategis untuk memulangkan masyarakat dari enam kampung agar dapat kembali ke kampung asal masing-masing.

Usai rapat, Bupati bersama Wakil Bupati didampingi Kapolres, Dandim, pimpinan Satgas, serta Tim Mediasi Penanganan Konflik menemui masyarakat yang telah berkumpul di halaman Kantor Bupati Intan Jaya guna mendengarkan langsung aspirasi mereka.

“Karena mereka yang melihat dan merasakan langsung situasi di lapangan, maka kami pemerintah mengundang mereka untuk menyampaikan secara langsung isi hati mereka kepada pimpinan Satuan Tugas (Satgas) di daerah,” ujar Elias.

Ia mengatakan masyarakat yang hadir bukan hanya berasal dari enam kampung, tetapi juga warga Intan Jaya lainnya yang selama ini terdampak situasi keamanan.

Menurut Elias, masyarakat dalam aspirasinya meminta kepada pimpinan Satgas agar menghentikan operasi dengan melepaskan bom drone dan roket dari udara yang menurut mereka mengenai masyarakat sipil.

Masyarakat juga meminta perlindungan dari pemerintah dan aparat keamanan serta berharap agar tidak lagi menjatuhkan bom drone maupun roket di tengah kerumunan warga sipil. Mereka meminta apabila dilakukan tindakan terhadap kelompok bersenjata, masyarakat terlebih dahulu diberikan peringatan agar menjauh sehingga sasaran benar-benar ditujukan kepada TPNPB-OPM.

Menurut Elias, warga menyampaikan bahwa selama ini yang menjadi korban adalah masyarakat sipil.