Saul Paulo Wanimbo (baju merah hitam), Ketua Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Timika dan Rudolof Kambayong, Sekretaris SKP Keuskupan Timika melaksanakan konferensi pers terkait persoalan kemanusiaan di Intan Jaya di Kantor Sekretariat Keuskupan Timika, Senin 6 Juli 2026. (Foto – Anton Juma Songa/papuaglobalnews.com).

Timika,papuaglobalnews.com – Menyikapi persoalan kemanusiaan akibat konflik bersenjata yang menimpa masyarakat sipil di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Timika menyoroti kondisi militerisme dan krisis kemanusiaan yang terjadi di Intan Jaya sepanjang Juni hingga awal Juli 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua SKP Keuskupan Timika, Saul Paulo Wanimbo, bersama Sekretaris SKP Keuskupan Timika, Rudolof Kambayong, dalam konferensi pers di Kantor Keuskupan Timika, Bobaigo, Senin 6 Juli 2026.

Rudolof Kambayong menjelaskan situasi keamanan di Kabupaten Intan Jaya sepanjang Juni hingga awal Juli 2026 kembali menunjukkan eskalasi konflik bersenjata yang berdampak serius terhadap masyarakat sipil.

Menurutnya, berbagai laporan dari media, organisasi masyarakat sipil, tokoh gereja, hingga pemerintah daerah menunjukkan meningkatnya korban jiwa, pengungsian warga, kerusakan fasilitas sipil, serta terganggunya pelayanan dasar akibat intensitas operasi keamanan dan kontak senjata yang terus berlangsung.

Di sisi lain, Panglima Komando Operasi Habema TNI, Mayjen TNI Yudha Airlangga, juga telah menyampaikan penjelasan resmi mengenai sejumlah insiden yang terjadi di Intan Jaya.

Menurut SKP, adanya perbedaan informasi antara laporan masyarakat sipil dengan penjelasan aparat keamanan semakin menegaskan pentingnya investigasi yang independen, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Catatan Situasi HAM

SKP Keuskupan Timika mencatat sejumlah peristiwa yang dinilai memerlukan perhatian serius, di antaranya:

18 Juni 2026 di Danggoa, Distrik Sugapa, Intan Jaya, terjadi peledakan granat menggunakan drone yang disebut menyasar area perkebunan. SKP menyebut pelakunya adalah TNI dengan korban dua ibu, yakni Oktopina Hogajau (40) dan Aliana Pogau (45).

22 Juni 2026 di Zanamba, Distrik Hitadipa, Intan Jaya, terjadi peledakan granat menggunakan drone yang disebut menyasar kawasan permukiman. Dalam catatan SKP, korban bernama Makelon Majau.

Pada Juni 2026, SKP juga mencatat dugaan pemerkosaan terhadap seorang ibu rumah tangga yang merupakan istri Kepala Distrik Sugapa. Dalam catatan tersebut disebutkan dugaan pelaku adalah beberapa anggota TNI.

24 Juni 2026 pukul 11.30 WIT di Yokatapa, SKP mencatat adanya penangkapan terhadap seorang pemuda bernama Paskalis Pogau yang diduga sebagai simpatisan OPM. Dalam catatan tersebut disebutkan dugaan pelaku berasal dari anggota Brimob dan TNI.

Pada 26–27 Juni 2026, terjadi kontak senjata antara TNI dan TPNPB di wilayah Mbamogo–Danggoa, Distrik Agisiga.

Dalam insiden tersebut, SKP menyebut tiga anggota TNI terkena tembakan dan rumah-rumah warga di Kampung Danggoa dibakar sehingga masyarakat mengungsi ke wilayah yang dianggap aman.

Disebutkan pula bahwa anggota TNI yang terluka diterbangkan menggunakan pesawat Smart Aviation sekitar pukul 18.05 WIT. Dalam catatan SKP, total terdapat tujuh anggota TNI menjadi korban, dua di antaranya meninggal dunia, sementara lainnya menjalani perawatan medis dan dievakuasi ke luar Intan Jaya.

29 Juni 2026, SKP mencatat penangkapan terhadap dua warga sipil, Arnol Agimbau dan Elianus Agimbau. Setelah menjalani interogasi di Titigi, Arnol Agimbau dipulangkan kepada keluarganya di Sugapa, sedangkan Elianus Agimbau kemudian ditemukan meninggal dunia di semak-semak sekitar Kampung Titigi.

SKP menyebut Pendeta Elianus Agimbau diduga dibunuh oleh TNI dan jasadnya disembunyikan di sekitar pangkalan Mbamobogo, persimpangan Titigi antara Danggoa, Mbamogo, dan Mamba.

Jenazah ditemukan pada 30 Juni 2026, dievakuasi ke RSUD Sugapa, dan dimakamkan pada 1 Juli 2026.

Pada 29 Juni 2026, SKP juga mencatat insiden penembakan terhadap mobil Paroki Santo Mikhael Bilogai yang disebut dilakukan oleh TNI Habema.

Dalam peristiwa tersebut, korban adalah Daud Hagisimijau dan Kiko Hagisimijau.