Geotermal Bukan Energi Masa Depan Flores, Tapi Ancaman bagi Rakyat
Oleh : Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Keuskupan Agung Ende
SIKAP uskup dan pendamping Keuskupan Ende juga sikap para uskup Provinsi Gerejawi Ende itu sampai sekarang tidak berubah. Kami tetap menolak geotermal sebagai bentuk energi terbarukan yang mau diterapkan di Flores.
Sikap ini kita utarakan pertama kali ketika saya menyampaikannya secara terbuka pada 6 Januari 2025, lalu juga ditulis dalam beberapa surat gembala dan juga para uskup se-provinsi Gerejawi Ende. Enam uskup–Uskup Denpasar, Uskup Labuan Bajo, Uskup Ruteng, Uskup Ende, Uskup Maumere, Uskup Larantuka–juga menyatakan yang sama, sikap yang sama terhadap geotermal.
Saya perlu tegaskan bahwa dengan sikap ini, kami bukan berarti menolak kemajuan atau juga menolak kebutuhan akan listrik. Kami sangat sadar kita butuh listrik. Juga dengan sikap seperti ini, bukan berarti kita menolak untuk beralih ke energi terbarukan.
Bersama Paus Fransiskus, kami sadar akan kemendesakan untuk beralih dari energi berbasis fosil ke energi terbarukan. Hanya bahwa, geotermal itu bukan pilihan yang tepat untuk konteks kami di Flores.
Ada beberapa alasan yang bisa saya sampaikan;
Pertama, soal topografi wilayah. Kami terutama di Keuskupan Agung Ende, wilayah yang bergunung-gunung dan berbukit, yang menyisakan lahan yang sangat terbatas untuk pemukiman dan untuk pertanian warga. Sementara titik-titik yang mau diincar untuk pengembangan geothermal ini justru titik-titik seperti itu. Karena itu akan mengambil lahan yang digunakan untuk pemukiman, juga untuk pertanian warga.
Kedua, soal kekurangan air. Itu geothermal pasti membutuhkan air, sekurang-kurangnya pada fase drilling. Itu butuh air. Sementara masyarakat kita sudah mengeluh kekurangan air. Dua minggu lalu saya ada di Laja. Laja itu tempat dari mana air akan diambil untuk pengembangan geothermal di Mataloko.
Itu orang sudah mengeluh untuk kekurangan air di sana. Kalau nanti, walaupun katanya ini sangat terbatas penggunaan air, tapi tetap sekarang sudah mengeluh kekurangan air. Kalau air yang sudah berkurang itu digunakan lagi untuk geothermal, maka masyarakat yang adalah para petani itu akan sangat menderita. Lalu air di Laja itu digunakan untuk mengairi persawaan warga. Soal kekurangan air yang menjadi masalah yang sangat serius.
Yang ketiga, soal kebudayaan kami di Flores, masyarakat yang memang hidupnya sangat ditentukan oleh pertanian. Pertanian menentukan semuanya. Menentukan cara orang berinteraksi satu sama lain. Cara orang membagi ketenangan dalam masyarakat. Semuanya terputar sekitar pertanian.



