Ia berharap melalui mimbar bebas tersebut, Presiden Prabowo Subianto tidak hanya mengirim personel militer nonorganik untuk menghadapi TPNPB-OPM, yang berdampak pada rasa takut serta intimidasi terhadap masyarakat Papua, khususnya di wilayah pegunungan, tetapi juga mencari solusi yang mampu memberikan jaminan keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua di atas tanahnya sendiri.

Menurut Yanto, aksi tersebut lebih menitikberatkan pada penyampaian aspirasi terkait persoalan darurat militer dan kemanusiaan di Papua.

Berdasarkan catatan KNPB yang disampaikan Yanto, jumlah warga sipil yang mengungsi di seluruh Tanah Papua mencapai  sejak 7,5 tahun  yakni 2018-awal Agustus 2026 terdapat 125.931 jiwa. Sementara itu tercatat 103 warga sipil, 300 anggota TPNPB, serta 162 anggota TNI-Polri meninggal dunia.

Mantan tahanan politik (Tapol) Timika itu menegaskan dengan banyaknya korban yang telah berjatuhan, ia berharap tidak ada lagi korban jiwa berikutnya, baik dari kalangan masyarakat Papua maupun non-Papua.

Yanto juga menekankan aksi tersebut murni bertujuan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan demi terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera.

Selain menyampaikan aspirasi, para orator juga memandu yel-yel untuk membangkitkan semangat massa. Mereka meneriakkan, “Papua…” yang dijawab peserta aksi dengan “Merdeka…”, sambil mengepalkan tangan kiri ke atas.

Pada kesempatan itu, Yanto membacakan pernyataan sikap yang menyoroti situasi keamanan, darurat militer dan banyaknya korban jiwa. **