Oleh : Danau Omaleng

‎DI jantung kawasan pegunungan Tembagapura, tepat di Kampung Opitawa, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah ada seorang pemuda yang tidak hanya memimpin tetapi juga membangun. Dengan tangan, tekad yang kuat, dan cinta tanah kelahirannya, Julianus Umabak, Kepala Kampung Opitawa, mulai mengubah kampung yang dulunya sepi menjadi destinasi wisata yang memukau.

‎‎Melalui kisah ini, kita akan melihat bagaimana semangat satu orang bisa menggerakkan banyak orang. Bagaimana tangga kayu yang ia bangun bukan sekadar menaiki bukit, melewati rintangan tetapi lebih pada itu menjadi simbol masa depan kampungnya.

‎‎‎Atas kencintaannya yang besar akan kampung halaman, Julianus dengan inisiatif sendiri mulai pengembangan Desa Wisata Alam Buk Heteng Meteng Opitawak.

Ia berpinsip “alam kita adalah harta kita; jaga ia, maka ia akan menjaga kita.”

‎‎Julianus bukan sekadar pemimpin administrasi di balik meja. Namun, ia seorang sosok pemimpin yang rela turun langsung dari puncak kekuasaan lokal (kampung-red) ke lokasi, memegang palu, paku, gergaji dan bersama warganya.

Ia bermimpi suatu saat nanit anak-anak Opitawa tidak perlu lagi pergi jauh untuk mencari masa depan. Karena masa depan itu sesungguhnya ada di kampungnya sendiri, di bawah langit biru dan di atas bukit-bukit hijau Opitawak.

Apa yang membuat Opitawak istimewa?

‎‎Opitawak terletak di ketinggian pegunungan, dikelilingi hutan hujan tropis yang masih sangat alami dan terjaga. Udara yang sejuk, pemandangan lembah yang luas, dan keheningan alam yang mengantar menenangkan jiwa. Itulah yang ditawarkan Buk Heteng Meteng Opitawak.

‎‎”Wisata Tangga Buk Heteng Meteng” bukan sekadar nama. Tangga-tangga kayu yang dibuat menanjak ke atas bukit merupakan karya tangan terampil warga setempat sebagai akses menuju titik-titik pandang yang menyuguhkan pemandangan alam luar biasa luas. Di tempat ini seolah mendorong pengunjung untuk tetap berlama-lama di tempat itu bersama alam. Di puncaknya, mata seakan memeluk seluruh lembah dan bukit di sekelilingnya.

‎Di lokasi ini juga disiapkan pusat informasi dan gazebo sebagai tempat istirahat pengunjung. Mamanjakan mata pengunjung akan disuguhi hutan alami yang terjaga keasrian alam tanpa kerusakan. Selain itu kehangatan dan keramahan masyarakat lokal warga Opitawa yang tulus membuat pengunjung sungguh merasa diterima.

‎‎Ketika Julianus Umabak menjabat sebagai Kepala Kampung Opitawa, ia melihat sesuatu yang belum dilihat banyak orang: potensi alam kampungnya yang luar biasa. Namun, bukit yang indah itu sulit dijangkau. Tanpa akses, keindahan itu hanya milik mereka yang tinggal di sana.

‎‎”Kalau kita tidak bisa menunjukkannya, bagaimana orang lain tahu betapa indahnya kampung kita?” ujar Julianus.

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.