Oleh : Viktor Kabey

PENYELENGGARAAN forum berskala nasional seperti Konferensi Kota Toleransi di Kabupaten Mimika menjadi momen penting dalam memperkuat komitmen keindonesiaan dan kerukunan antarumat beragama di Tanah Papua. Namun, di balik momentum besar ini, terdapat tantangan mendasar yang perlu dijawab secara bijak bagaimana menyelaraskan agenda nasional dengan aspirasi serta perlindungan hak-hak masyarakat adat setempat di era Otonomi Khusus  Papua.

Timika, sebagai wilayah heterogen yang dihuni oleh Orang Asli Papua khususnya suku Amungme dan Kamoro serta masyarakat pendatang dari berbagai penjuru Nusantara, telah lama menjadi simbol keberagaman. Meski demikian, pelaksanaan agenda seremonial berskala nasional kerap melahirkan dinamika antara narasi toleransi beragama dan realitas perjuangan hak-hak ulayat serta kesejahteraan warga asli.

Toleransi tidak hanya diukur dari nihilnya konflik beragama, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat adat mendapatkan penghormatan atas hak tanah ulayat, ruang hidup, serta akses yang adil terhadap pembangunan ekonomi dan layanan publik.

Risiko menempatkan lembaga dan tokoh adat sekadar sebagai simbol atau penonton dalam acara besar nasional harus dihindari. Keberadaan suku Amungme, Kamoro, dan lima suku kerabat lainnya harus menjadi pilar utama dalam perumusan arah kebijakan toleransi di daerahnya sendiri.

Agenda nasional sering kali berfokus pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, sementara aspirasi adat berpusat pada proteksi identitas, kebudayaan, dan keberlanjutan lingkungan hidup.

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.