Daniel Orun, Sekretaris Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika didampingi pejabat eselon III Disbudparekraf foto bersama peserta pelatihan pada penutupan, Jumat 24 Juli 2026. (Foto – Maria Goreti Barowati/papuaglobalnews.com).

 

Timika,papuaglobalnews.com – Pelaksanaan Pelatihan Manajemen Sanggar Amungme dan Kamoro yang digagas Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Kabupaten Mimika selama empat hari berturut-turut resmi berakhir pada Jumat 24 Juli 2026.

Dari total 40 sanggar seni ukir dan anyaman yang mengikuti pelatihan tersebut, 25 sanggar telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) yang diterbitkan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Mimika. Sementara sisanya masih dalam proses penerbitan NIB.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbudparekraf Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, dalam sambutan penutupan yang dibacakan Sekretaris Disbudparekraf, Daniel Orun, menyampaikan kegiatan yang mengusung tema ‘Mengolah Karya, Merawat Budaya’ ini telah berlangsung selama empat hari.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Mimika, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh peserta, panitia penyelenggara, serta semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Kehadiran dan partisipasi aktif bapak dan ibu sekalian menunjukkan bahwa kita semua memiliki komitmen yang sama dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang kita miliki,” katanya.

Dalam sambutannya juga disampaikan sebuah pertanyaan reflektif, yakni apakah saat ini masih ada ruang bagi tumbuh dan berkembangnya tradisi sebagai tempat mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

“Jawabannya ada di hadapan kita hari ini. Sanggar-sanggar kebudayaan dan seni di Kabupaten Mimika adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Sanggar merupakan benteng terakhir dalam menjaga identitas budaya kita di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, dan digitalisasi,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan pelestarian budaya Amungme dan Kamoro saat ini semakin kompleks sehingga semangat dan idealisme saja tidak cukup untuk mempertahankan eksistensi budaya.

“Oleh karena itu, sanggar harus dikelola dengan baik agar mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Pelatihan manajemen sanggar ini menjadi langkah yang sangat strategis,” katanya.

Selama empat hari pelatihan, para peserta dibekali berbagai keterampilan praktis, mulai dari pengelolaan sumber daya manusia, strategi produksi karya seni, pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga aspek legalitas dan perizinan.

“Semua materi ini bertujuan agar sanggar tidak hanya menjadi tempat berlatih seni, tetapi juga menjadi pusat pelestarian budaya, pendidikan karakter, dan penggerak ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal,” ujarnya.