Timika,papuaglobalnews.com – Dalam rangka mematangkan persiapan menghadapi Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Tingkat Nasional ke-14 di Manokwari, Papua Barat, pada 18-28 Juni 2026, tujuh kategori Paduan Suara (PS) perwakilan Kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak menjalani evaluasi oleh Lembaga Pengembangan Paduan Suara Daerah (LPPD) Papua Tengah bersama LPPD Kabupaten Mimika di salah satu hotel di Timika, Minggu 10 Mei 2026. Pesparawi tingkat nasional ini diperkirakan akan dihadiri perwakilan dari 38 provinsi di Indonesia.

Tujuh kategori tersebut terdiri dari Paduan Suara Campuran (PSC) dan Solo Anak dari Kabupaten Mimika. Sedangkan lima kategori lainnya berasal dari Kabupaten Puncak, yakni Paduan Suara Anak (PSA), Paduan Suara Nusantara (PSN), Musik Gerejawi dan dua kategori solo.

Dalam kegiatan evaluasi tersebut, setiap kategori menampilkan satu lagu untuk dinilai secara menyeluruh oleh tim evaluasi dari LPPD Papua Tengah dan LPPD Mimika.

Kegiatan ini dibuka oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Mimika, Santi Sondang.

Pdt. Johan Womsiwor, S.Si., Teol dalam khotbahnya mengatakan para peserta, mulai dari Paduan Suara Anak hingga Paduan Suara Dewasa, merupakan putra-putri terbaik yang dipilih untuk mewakili Papua Tengah dalam ajang Pesparawi Nasional di Manokwari.

Menurutnya, para peserta membawa misi untuk memuliakan Tuhan melalui puji-pujian dalam ajang bergengsi tingkat nasional tersebut.

Ia mengutip Mazmur 34:2 yang berbunyi, “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.”

Pdt. Johan mengingatkan para peserta agar bernyanyi dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, meskipun tampil dalam sebuah perlombaan.

Ia juga mengutip kisah Kain dan Habel dalam Perjanjian Lama. Menurutnya, persembahan Kain tidak diterima Allah bukan karena jumlahnya sedikit atau banyak, tetapi karena tidak diberikan dengan tulus hati. Sementara persembahan seorang janda hanya dua peser justru diterima Tuhan karena diberikan dengan ketulusan.

Ia mengakui seluruh peserta selama ini telah mempersiapkan diri dengan latihan keras, strategi, dan teknik yang matang demi memperoleh hasil terbaik.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa Pesparawi sejatinya adalah pesta iman dan ibadah kepada Tuhan, bukan sekadar kompetisi.

“Sejak awal Pesparawi dirancang untuk memuliakan Tuhan lewat puji-pujian. Saat tampil di panggung, peserta bukan hanya menampilkan vokal atau kekompakan tim, tetapi mempersembahkan suara dan hati yang penuh sukacita sebagai korban pujian bagi nama Tuhan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kontingen Papua Tengah berangkat ke Manokwari untuk memuji Tuhan, sedangkan juara hanyalah bonus dari perjuangan yang dilakukan.

Sementara itu, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGGI) Papua Tengah, Pdt. Dr. Yance Nawipa, dalam arahannya mengingatkan seluruh peserta agar menjaga kesatuan dan persatuan tanpa membedakan asal gereja masing-masing, karena semua hadir untuk memuji Tuhan.

Menurutnya, melalui nyanyian para peserta membawa misi perdamaian bagi Tanah Papua yang selama ini penuh konflik agar lahir damai, sukacita, dan kesejahteraan.