Seorang ibu yang membawa anak ke tempat kerja mungkin sedang menunjukkan kasih sayang sekaligus mengelola keterbatasan. la mungkin tidak memiliki pilihan untuk membayar pengasuh atau meninggalkan anak di rumah dengan layanan yang aman. Maka, membawa anak ke pasar adalah strategi pengasuhan yang rasional dalam situasi tertentu, bukan semata-mata tanda kelalaian.

Tetapi strategi itu tetap memiliki harga. Perhatian ibu terbagi. Waktu istirahat berkurang. Anak berada di ruang yang mungkin tidak menyediakan tempat bermain, sanitasi, atau keamanan yang memadai.

Trotoar sebagai Ruang Hidup

Trotoar di depan Pasar SP 2 memperlihatkan kegagalan kita memisahkan ruang kota ke dalam kotak-kotak yang terlalu rapi. Dalam perencanaan, trotoar adalah jalur pejalan kaki. Dalam kehidupan sehari-hari, ia dapat menjadi tempat menjual, membeli, berbincang, mengasuh, dan bertahan hidup.

Ini bukan berarti semua trotoar harus dibiarkan menjadi pasar. Pejalan kaki tetap memiliki hak atas ruang yang aman dan layak. Tetapi penertiban tanpa menyediakan alternatif hanya akan memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain. Barang dagangan mungkin disingkirkan, tetapi kebutuhan untuk memperoleh pendapatan tidak ikut hilang.

Kebijakan kota semestinya tidak berhenti pada pertanyaan: siapa yang melanggar fungsi trotoar? Pertanyaan berikutnya harus diajukan: mengapa trotoar dipilih sebagai tempat berjualan, dan fasilitas apa yang dapat menyediakan pilihan yang lebih baik?

Pasar yang layak tidak hanya membutuhkan atap. Ia membutuhkan akses, sanitasi, penerangan, keamanan, ruang anak, pengelolaan sampah, dan biaya sewa yang dapat dijangkau. Ia juga membutuhkan kebijakan yang mengakui pedagang kecil sebagai bagian dari ekosistem ekonomi, bukan gangguan yang harus disingkirkan.

Jika pemerintah ingin memperkuat ekonomi keluarga, dukungan itu tidak cukup berupa pelatihan kewirausahaan. Pedagang membutuhkan akses modal yang wajar, perlindungan sosial, layanan kesehatan, infrastruktur pasar, informasi harga, dan kepastian ruang usaha.

Bagi perempuan pedagang, layanan pengasuhan anak juga bukan fasilitas tambahan. la merupakan infrastruktur ekonomi. Tanpa dukungan pengasuhan, kebebasan perempuan untuk bekerja dan memilih akan tetap terbatas.

Jangan Hanya Menghitung Uang

Kisah Mama Wilmina dan mas bakso mengajarkan bahwa kemiskinan tidak selalu tampak sebagai ketiadaan aktivitas. Sering kali kemiskinan justru hadir dalam bentuk kerja yang panjang dengan hasil yang tidak pasti, pilihan yang sempit, dan perlindungan yang tipis.

Namun kisah itu juga menunjukkan adanya pengetahuan lokal, solidaritas, dan kemampuan mengatur kehidupan. Para mama tidak menunggu belas kasihan. Mereka membawa hasil kebun ke pasar dan menciptakan pendapatan dari apa yang tersedia. Mereka menjalankan produksi, perdagangan, dan pengasuhan sekaligus.

Karena itu, mereka harus dilihat dengan dua lensa. Lensa pertama mengakui agensi mereka sebagai pelaku ekonomi. Lensa kedua mengkritik struktur yang membuat agensi itu berlangsung dengan risiko dan beban yang tidak seimbang.

Kita juga perlu berhati-hati menggunakan istilah “kemiskinan”. Kisah satu malam tidak cukup untuk mengukur tingkat kemiskinan sebuah keluarga atau komunitas. Kita memerlukan data tentang pendapatan, pengeluaran, aset, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan akses terhadap layanan publik.

Tetapi satu malam sudah cukup untuk mengajukan pertanyaan yang penting: siapa yang membuat ekonomi tetap bergerak ketika sistem formal belum menyediakan tempat yang memadai?

Jawabannya mungkin duduk di trotoar, di antara sisir-sisir pisang dan antrean anak-anak yang menunggu bakso.

Trotoar: harapan untuk mempertahankan kehidupan

Satu sisir pisang seharga Rp20 ribu telah berubah menjadi semangkuk bakso. Perubahan itu terlihat sederhana, tetapi di dalamnya terdapat kebun, tenaga perempuan, pengasuhan, selera anak, keterampilan pedagang, dan jaringan ekonomi lokal.

Yang berputar di trotoar itu bukan hanya uang. Yang berputar adalah pangan, kerja, perhatian, kepercayaan, dan harapan untuk mempertahankan kehidupan.

Mungkin sudah waktunya kita memandang trotoar bukan hanya sebagai ruang yang harus ditertibkan, melainkan sebagai cermin dari cara warga mengorganisasi hidup ketika pilihan ekonomi mereka terbatas. Di sana, ekonomi tidak tampil dalam bahasa teori yang rumit. la tampil dalam bentuk yang paling nyata: seorang ibu menjual pisang, seorang anak membeli bakso, dan sebuah keluarga berusaha melewati hari.(*)

(Timika, 15-09-2026)

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.