Tolikara,papuaglobalnews.com – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengingatkan agen intelijen militer Indonesia yang beroperasi sebagai sopir taksi, pengemudi ojek, penjual di kios-kios, aparatur sipil negara (ASN), dan profesi lainnya agar menghentikan aktivitas di wilayah yang mereka klaim sebagai area operasi.

Peringatan tersebut disampaikan Juru Bicara Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB, Sebby Sambom, melalui siaran pers tertanggal Selasa, 4 Agustus 2026.

Dalam siaran pers itu, Sebby menyatakan bahwa Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Botak Wanimbo bersama seluruh pasukan TPNPB di Tolikara yang mengklaim masih berada di wilayah operasi TPNPB di Distrik Kanggime.

Pernyataan tersebut, menurut Sebby, sekaligus membantah informasi yang beredar di grup WhatsApp yang menyebutkan bahwa pasukan TPNPB telah meninggalkan wilayah Kanggime.

“Itu informasi hoax atau tidak benar. Yang benar adalah kami masih berada di Kanggime untuk melakukan operasi,” tulis Sebby dalam siaran pers.

Sebby juga menegaskan agar pihak yang mereka sebut sebagai agen intelijen militer Pemerintah Indonesia yang beroperasi di ruas Jalan Trans Papua Wamena-Tolikara segera menghentikan aktivitasnya.

Selain itu, TPNPB juga meminta agar seluruh kegiatan pembangunan jalan dan jembatan di wilayah tersebut dihentikan.

Dalam pernyataannya, TPNPB mengancam akan melakukan tindakan eksekusi terhadap pihak-pihak yang tetap terlibat dalam kegiatan pembangunan di wilayah yang mereka klaim sebagai area operasi.

“Kami tidak butuh pembangunan di Papua oleh pemerintah kolonialisme Indonesia. Kami hanya mendesak kepada Presiden Prabowo Subianto dan jajarannya agar dapat menyelesaikan akar persoalan konflik di Papua selama 64 tahun dan Indonesia harus mengakui kemerdekaan bangsa Papua pada 1 Desember 1961,” tulis Sebby.

Menurut TPNPB, apabila Pemerintah Indonesia tetap mengabaikan tuntutan tersebut, maka konflik bersenjata akan terus berlanjut hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turun tangan dalam penyelesaian persoalan di Tanah Papua.

Sebby juga mengklaim penembakan terhadap lima orang yang disebut sebagai agen intelijen militer Indonesia yang berprofesi sebagai tukang bangunan di Tolikara saat operasi berlangsung pada 2-3 Agustus 2026 merupakan peringatan kepada warga pendatang Indonesia agar meninggalkan wilayah operasi TPNPB.

Selain itu, TPNPB juga mengingatkan masyarakat asli Papua agar tidak bekerja sama dengan aparat militer Indonesia dalam pelaksanaan pembangunan di wilayah mereka.

“Kami dengan tegas menolak pembangunan dan sistem pemerintahan kolonialisme Indonesia di atas Tanah Papua,” katanya. **