Tonny menjelaskan, disertasinya membedah krisis Kopi Arabika Flores Bajawa, komoditas lokal yang memiliki reputasi nasioanal dan internasional serta peluang pasar yang sangat tinggi namun mengalami krisis produksi.

Saat ini diakui Tonny, luas tanam dan produksi kopi Bajawa menurun drastis dalam satu dekade terakhir padahal permintaan pasar meningkat. Penurunan produksi dapat disebabkan faktor teknis budidaya maupun faktor alam.

Pada bagian lain orasi ilmiahnya, Tonny menyebut penelitian yang ia lakukan membangun model analisis perangkap kelembagaan-kebijakan-pasar untuk menjelaskan bagaimana interaksi antar komponen ini dapat membentuk struktur insentif. Model ini menggambarkan perangkap sistemik yang memengaruhi kinerja sistem produksi kopi Bajawa.

“Kelembagaan lokal yang lemah mengurangi efektivitas kebijakan; kebijakan yang parsial gagal memperkuat organisasi lokal dan budidaya; serta struktur pasar yang asimetris memperlemah produksi dan posisi tawar petani. Siklus interaksi negatiff ini memicu alih fungsi lahan dan penurunan produksi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Tonny di akhir orasi menyampaikan penghargaan kepada Promotor Prof Dr Daniel Daud Kameo, Ph.D; Ko-Promotor Prof Dr Intiyas Utama, SE, M.Si, Ak dan Dr Lasmoni. Juga Dewan Penguji Prof Dr Gatot Sasongko, SE, MS dan Dr Wilson MA Therik, SE, M.Si serta penguji eksternal Dr Luftan Makmun, S.ST, MP.

Tonny menyampaikan terima kasih dan penghargaan secara khusus juga disampaikan kepada Program Doktor Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana atas dukungannya selama ini.

“Saya juga menyampaikan terima kasih secara khusus kepada Bapak Dr Viktor Laiskodat dan Bapak Dr Josef A Nae Soi, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT 2018-2023 yang secara pribadi memberikan dukungan finansial untuk studi dan penelitian yang menghasilkan disertasi ini,” ujar Tonny.

Orasi ilmiah juga dihadiri juga Wakil Gubernur NTT 2018-2023 Dr Josef A Nae Soi dan istrinya, Maria Fransiska Jogho serta saudara dan saudari kandung Tonny Djogo serta para kerabat. (*)