Ribuan Jemaat GKII, Kingmi dan Katolik Hadiri KKR Peluncuran dan Peresmian Alkitab Bahasa Damal/Amungme, Korbankan Lebih dari 200 Ekor Babi, Pdt. Bas : Tuhan Mau Dunia Ini Selamat dari Dosa
Menurutnya, para misionaris rela menempuh perjalanan berat, menghadapi ancaman dan kehilangan demi membawa Injil ke pedalaman Papua.
“Mereka membawa Injil, pendidikan, pelayanan kesehatan, pertanian dan pemberdayaan masyarakat. Mereka belajar bahasa-bahasa Papua seperti Damal, Lani, Moni, Mee, Wolani dan lainnya supaya masyarakat bisa membaca dan menulis,” ujarnya.
Ia juga mengenang banyak misionaris dan penginjil yang meninggal dalam pelayanan di Papua, baik penginjil asing maupun penginjil lokal.
“Ada yang sakit dan meninggal di tanah Papua. Nama mereka mungkin dilupakan manusia, tetapi dicatat di surga,” katanya.
Dalam pesannya, Pdt. Bas Makai mengingatkan jemaat agar tidak hanya menjadikan kekristenan sebagai tradisi atau identitas semata.
“Saya orang Kristen harus diganti dengan saya murid Kristus,” tegasnya.
Ia mengkritik banyak orang rajin beribadah, membangun gereja dan mengadakan perayaan besar, namun hati mereka jauh dari Tuhan.
“Kita bisa bernyanyi di gereja, rajin beribadah dan membangun gedung yang luar biasa. Tetapi kalau hati kita jauh dari Tuhan, semua itu hanya tradisi kosong,” katanya.
Ia juga mengajak generasi muda Papua untuk kembali kepada semangat Injil dan pengorbanan para pendahulu.
“Kita perlu generasi baru di Papua yang penuh Roh Kudus, pemimpin yang jujur dan takut akan Tuhan, serta gereja yang memiliki hati misi,” ujarnya.
Pdt. Bas Makai turut mengisahkan perjalanan berat para misionaris seperti Russell Deibler yang berjalan kaki berhari-hari menuju Paniai pada tahun 1938 demi membawa Injil.
“Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki orang yang membawa kabar baik,” kutipnya dari Yesaya 52:7.
Di akhir khotbahnya, ia mengajak seluruh jemaat untuk menjadikan Alkitab Bahasa Damal bukan sekadar pajangan, melainkan Firman Tuhan yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita sungguh-sungguh hidup bagi Yesus, kita akan menjauh dari kekerasan, pornografi, seks bebas dan hidup dalam kasih, keadilan serta kebenaran,” katanya.
Ia menutup khotbah dengan mengutip Ulangan 10:12 dan Mikha 6:8 tentang hidup takut akan Tuhan, berlaku adil, mengasihi belas kasihan dan hidup rendah hati di hadapan Allah.
“Kiranya Yesus menjadi nyata di dalam kehidupan kita semua,” tutupnya.
Setelah KKR seluruh jemaat dalam posisi duduk bersifat di tanah mendapat berkat dari para pendeta dan anak-anak dari para misionaris. **










