Timika,papuaglobalnews.com – Ribuan jemaat dari Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII), Kingmi dan Katolik dari wilayah Kabupaten Mimika, Puncak dan Intan Jaya dengan penuh sukacita menghadiri ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang berlangsung di halaman Kantor Sinode GKII Jalan Poros Mayon Mile 32, Kamis 21 Mei 2026.

Ibadah KKR tersebut merupakan rangkaian ucapan syukur atas Peluncuran dan Peresmian 10 Ribu Alkitab Bahasa Damal/Amungme yang sebelumnya dilaksanakan di GOR Futsal SP5 pada Rabu 20 Mei 2026.

Dalam kegiatan itu, panitia dan masyarakat mengorbankan lebih dari 200 ekor ternak dalam acara tradisi bakar batu Papua Pegunungan.

Momen bersejarah tersebut turut dihadiri anak cucu para misionaris seperti keluarga Gibbons, Elambege, serta para pilot misionaris yang selama ini mendukung pelayanan di wilayah Timika, Nabire dan Merauke.

Ibadah KKR mengusung tema “Bersyukur atas Kebaikan dan Perbuatan-perbuatan Besar dari Tuhan” yang diambil dari Mazmur 103:1-5.

Dalam khotbah, Pdt. Bas Maxy yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Damal/Amungme oleh Pdt. Deteminus Beanal, menyampaikan firman Tuhan berdasarkan Yesaya 29:13.
“TUHAN berkata: Bangsa ini datang kepada-Ku dan memuji Aku dengan mulut mereka, tetapi hati mereka jauh dari-Ku. Mereka menyembah Aku hanya karena mengikuti aturan dan kebiasaan yang diajarkan manusia,” kutipnya.

Pdt. Bas Makai juga mengisahkan perjalanan sejarah masuknya Injil di Tanah Papua, khususnya di wilayah Damal dan Amungme.

Ia menyebut pada 5 Oktober 1954 keluarga Gibbons meninggalkan Amerika karena panggilan pelayanan ke Papua. Kemudian pada 28 Juni 1954, Latto dan Gibbons tiba di Ilaga untuk memulai pelayanan Injil di wilayah Damal.

Selanjutnya pada 26 Mei 1957, masyarakat Damal mulai mengalami pertobatan dan membakar alat-alat berhala mereka sebagai tanda meninggalkan kehidupan lama.

Pdt. Bas Makai menjelaskan keluarga Elambege bersama istrinya Helen Elam datang ke Ilaga dan mulai mempelajari Bahasa Damal yang saat itu belum pernah ditulis. Mereka kemudian menyusun sistem tulisan agar masyarakat Damal dapat membaca dan menulis dalam bahasa sendiri.

“Mereka merekrut banyak tenaga untuk mulai menerjemahkan Alkitab ‘Ogolal’ ke dalam Bahasa Damal bersama tokoh-tokoh seperti Sam Begal, Nigil Magai, Abdiet Tinal, Daniel Alom, Timotius Elatotagam, Hosea Yolemal, Albert Tinal, Yohan Wamang dan Pdt. Deteminus Beanal,” ujarnya.

Menurutnya, penerjemahan Alkitab tersebut merupakan hasil kerja sama banyak pihak selama puluhan tahun hingga akhirnya Alkitab lengkap Bahasa Damal dapat diselesaikan dan dirayakan hari ini.

Pdt. Bas Makai menegaskan bahwa Tuhan menghendaki keselamatan bagi seluruh umat manusia.

“Tuhan mau dunia ini selamat dari dosa. Keselamatan Allah adalah untuk semua bangsa, semua bahasa dan semua suku,” katanya.

Ia juga mengutip berbagai ayat Alkitab seperti Mazmur 67, Mazmur 96 dan Matius 28 tentang panggilan memberitakan Injil kepada seluruh bangsa.

Selain itu, ia menceritakan sejarah pelayanan misionaris Robert Jaffray dari Kanada yang kemudian mengutus para penginjil ke Papua melalui sekolah Alkitab di Makassar.

“Mereka datang bukan mencari emas duniawi atau kekayaan, tetapi mencari jiwa-jiwa yang berharga bagi Allah,” tegasnya.

Menurutnya, para misionaris rela menempuh perjalanan berat, menghadapi ancaman dan kehilangan demi membawa Injil ke pedalaman Papua.

“Mereka membawa Injil, pendidikan, pelayanan kesehatan, pertanian dan pemberdayaan masyarakat. Mereka belajar bahasa-bahasa Papua seperti Damal, Lani, Moni, Mee, Wolani dan lainnya supaya masyarakat bisa membaca dan menulis,” ujarnya.

Ia juga mengenang banyak misionaris dan penginjil yang meninggal dalam pelayanan di Papua, baik penginjil asing maupun penginjil lokal.

“Ada yang sakit dan meninggal di tanah Papua. Nama mereka mungkin dilupakan manusia, tetapi dicatat di surga,” katanya.

Dalam pesannya, Pdt. Bas Makai mengingatkan jemaat agar tidak hanya menjadikan kekristenan sebagai tradisi atau identitas semata.

“Saya orang Kristen harus diganti dengan saya murid Kristus,” tegasnya.

Ia mengkritik banyak orang rajin beribadah, membangun gereja dan mengadakan perayaan besar, namun hati mereka jauh dari Tuhan.

“Kita bisa bernyanyi di gereja, rajin beribadah dan membangun gedung yang luar biasa. Tetapi kalau hati kita jauh dari Tuhan, semua itu hanya tradisi kosong,” katanya.

Ia juga mengajak generasi muda Papua untuk kembali kepada semangat Injil dan pengorbanan para pendahulu.

“Kita perlu generasi baru di Papua yang penuh Roh Kudus, pemimpin yang jujur dan takut akan Tuhan, serta gereja yang memiliki hati misi,” ujarnya.

Pdt. Bas Makai turut mengisahkan perjalanan berat para misionaris seperti Russell Deibler yang berjalan kaki berhari-hari menuju Paniai pada tahun 1938 demi membawa Injil.

“Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki orang yang membawa kabar baik,” kutipnya dari Yesaya 52:7.

Di akhir khotbahnya, ia mengajak seluruh jemaat untuk menjadikan Alkitab Bahasa Damal bukan sekadar pajangan, melainkan Firman Tuhan yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita sungguh-sungguh hidup bagi Yesus, kita akan menjauh dari kekerasan, pornografi, seks bebas dan hidup dalam kasih, keadilan serta kebenaran,” katanya.

Ia menutup khotbah dengan mengutip Ulangan 10:12 dan Mikha 6:8 tentang hidup takut akan Tuhan, berlaku adil, mengasihi belas kasihan dan hidup rendah hati di hadapan Allah.

“Kiranya Yesus menjadi nyata di dalam kehidupan kita semua,” tutupnya.

Setelah KKR seluruh jemaat dalam posisi duduk bersifat di tanah mendapat berkat dari para pendeta dan anak-anak dari para misionaris. **