Oleh : Melkias Pekei – Pengamat Sosial Papua

ORANG Asli Papua dipandang sebagai penjaga Taman Eden yang diyakini berada di atas Tanah Papua. Dalam pandangan ini, Tanah Papua bukan sekadar wilayah geografis melainkan tanah kehidupan yang dianugerahkan oleh Naitai Ugatame/Tuhan Allah Bapa Sang Pencipta kepada manusia untuk dijaga, dipelihara dan diwariskan kepada setiap generasi. Gunung-gunung, hutan, sungai, danau, lembah, laut serta seluruh kekayaan alam Papua dipahami sebagai bagian dari ciptaan Allah yang memiliki nilai rohani, budaya, sosial dan ekologis yang tidak ternilai.

Namun, seiring perjalanan waktu, taman kehidupan ini mengalami berbagai kerusakan. Kerusakan tersebut bukan hanya disebabkan oleh pihak-pihak dari luar Papua tetapi juga oleh sebagian Orang Asli Papua yang secara sadar maupun tidak sadar ikut terlibat dalam tindakan yang merusak tanah, hutan, lingkungan, persaudaraan dan martabat bangsanya sendiri. Kepentingan ekonomi, politik, kekuasaan dan keuntungan pribadi seringkali mengalahkan tanggung jawab moral untuk menjaga warisan yang telah dipercayakan oleh Sang Pencipta.

Berbagai bentuk bujuk rayu, janji kemakmuran, investasi, kekuasaan, jabatan, uang dan berbagai iming-iming lainnya telah menjadi alat untuk memengaruhi banyak orang. Tidak sedikit Orang Asli Papua yang memiliki hati tulus dan penuh kepercayaan akhirnya terjebak dalam janji-janji yang tampak indah tetapi pada akhirnya justru membawa kerugian bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan tanah leluhur. Apa yang tampak sebagai jalan menuju kesejahteraan seringkali berubah menjadi jalan menuju kehilangan hak, kerusakan lingkungan, konflik sosial dan pudarnya nilai-nilai budaya.

Keadaan tersebut mengingatkan pada kisah Hawa di Taman Eden. Dalam kisah Kitab Suci, ular menggunakan tipu daya dan rayuan yang tampak meyakinkan untuk membujuk Hawa memakan buah yang dilarang Allah. Akibat dari keputusan tersebut tidak hanya dirasakan oleh Hawa dan Adam tetapi juga membawa konsekuensi bagi seluruh keturunannya. Kisah ini mengajarkan bahwa kejahatan seringkali tidak datang dalam bentuk ancaman yang nyata, melainkan melalui janji-janji yang tampak menguntungkan tetapi menyembunyikan kehancuran.

Dalam iman Kristiani, Allah tidak membiarkan manusia tetap berada dalam keterpisahan. Melalui Bunda Maria, Yesus Kristus hadir ke dunia untuk membawa keselamatan, memulihkan hubungan manusia dengan Allah serta mengajarkan kasih, keadilan, pengampunan dan perdamaian. Meskipun Ia mengalami penolakan, pengadilan yang tidak adil, penyaliban di Golgota, wafat, dimakamkan, bangkit pada hari ketiga dan naik ke surga, Yesus meninggalkan janji bahwa Ia akan datang kembali dalam kemuliaan sebagai Raja yang menghakimi dengan adil pada akhir zaman.