Pengawasan pemerintah daerah dan perusahaan besar? Nyaris tak terdengar gaungnya. Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, bahkan harus menegaskan bahwa keberadaan perusahaan besar seharusnya memberikan manfaat nyata. Namun, manfaat itu, bagi banyak OAP, masih sebatas janji di atas kertas. Sebuah kritik pedas terhadap lemahnya keberpihakan yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan.

Belenggu di Tanah Kaya

Angka-angka dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kemiskinan secara hidup, cermin jeritan perut yang lapar dan mimpi yang terenggut. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Mimika mencapai 6,75% pada Agustus 2025. Sementara itu, persentase penduduk miskin masih bertengger di angka 13,70% pada Maret 2025, dengan kemiskinan ekstrem mencapai 5,37% pada Juni 2025.

Setiap pintu yang tertutup bagi pencaker OAP adalah satu langkah lebih dekat ke garis kemiskinan. Biaya pelatihan yanng mencekik, pungli yang merajalela, dan birokrasi yang berbelit-belit secara sistematis mendorong OAP ke jurang keterpurukan. Mereka tak mampu bersaing, terpaksa menganggur, atau terdampar di sektor informal dengan upah seadanya. Sebuah lingkaran setan yang sulit diputus.

Inilah ironi Mimika yang paling pahit: hidup di atas emas, namun tidur beralaskan kemiskinan. Kekayaan alam yang melimpah ruah tak mampu menjamin kesejahteraan bagi penduduk aslinya. Sebuah paradoks yang seharusnya membuat kita bertanya: di mana janji kemakmuran yang selalu digaungkan? Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari sistem yang cacat ini?

Panggilan untuk Keadilan

Sudah saatnya Mimika bangkit dari tidurnya. Dana Otonomi Khusus (Otsus) harus benar-benar dialokasikan untuk pelatihan kerja gratis bagi masyarakat Papua asli. Penegakan hukum terhadap praktik pungli harus dilakukan tanpa pandang bulu. Perusahaan-perusahaan besar wajib membuka ruang yang lebih luas dan adil bagi tenaga kerja lokal, agar tepat memberikan manfaat yang nyata.

Mimika menunggu keadilan. Jika masalah ini terus diabaikan, maka emas di perut buminya hanya akan menjadi kutukan, bukan berkah. Dan anak-anak negeri akan terus menatap langit, bertanya, kapan giliran mereka merasakan kilau emas di tanah leluhurnya. (*)