KWI Soroti Luka Sosial dan Retaknya Persaudaraan yang Panjang di Papua
“Semua ini mengingatkan kita bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi saja tetapi juga dari kemampuan sebuah bangsa menjaga martabat manusia yang paling lemah dan rentan serta bagaimana kesejahteraan semakin dirasakan oleh mereka yang berada di pinggiran. Kita juga tidak dapat menutup mata terhadap luka panjang yang masih dirasakan oleh saudara-saudari kita yang ada di tanah Papua,” tegasnya.
Uskup Yanuarius menegaskan kekerasan, ketakutan dan kurangnya rasa saling percaya terlah meninggalkan luka batin pada lintas generasi. Papua bukan soal hanya pembangunan atau keamanan melainkan bagian utuh dari wajah Indonesia yang menuntut niat baik dan kejujuran dalam berjuang demi kesejahteraan Papua dan kebaikan bersama.
Selain itu, KWI menyoroti pendekatan keamanan bukanlah jalan cepat dan tepat dalam penyelesaian masalah di Papua. Karena itu diperlukan pendekatan yang semakin manusiawi, dialogis, partisipatif dan berakar pada penghormatan pada sejarah, budaya serta hak-hak dasar masyarakat setempat. **
Fungsionaris Konferensi Waligereja Indonesia (2025-2028) Ketua Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (Uskup Bandung), Wakil Ketua I Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD (Uskup Agung Ende), Wakil Ketua II Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap (Uskup Agung Medan), Sekretaris Jenderal Mgr. Adrianus Sunarko, OFM (Uskup Pangkalpinang), Bendahara Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF (Uskup Agung Samarinda) dan Anggota Presidium Mgr. Yanuarius Theofilius Matopai You (Uskup Jayapura), Mgr. Hieronimus Pakaenoni (Uskup Agung Kupang), Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap (Uskup Sintang), Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC (Uskup Manado) dalam momen konferensi pers dalam rangka memperingati 118 tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2026 di Jakarta. (Foto – Scrinshot youtube resmi Konferensi Pers KWI).










