Timika,papuaglobalnews.com – Ratusan karyawan PT Karya Bella Vita yang mengelola perkebunan kelapa sawit di Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menggelar aksi demonstrasi damai pada Senin, 20 Juli 2026. Dalam aksi tersebut, para pekerja menyampaikan sejumlah tuntutan kepada manajemen perusahaan terkait kesejahteraan dan fasilitas kerja.

Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA), Sem Bukaleng, mengatakan dirinya turut hadir dalam aksi tersebut untuk menerima dan mendengarkan langsung aspirasi para karyawan.

Menurut Sem, salah satu tuntutan utama para pekerja adalah meminta perusahaan segera mengganti mesin genset yang baru agar aliran listrik di perumahan karyawan kembali normal. Karena selama hampir tiga bulan terakhir rumah-rumah karyawan mengalami pemadaman listrik sehinggga pada malam hari gelap karena mesin genset yang digunakan sudah rusak.

“Mesin genset yang dipakai sekarang merupakan peninggalan saat perusahaan masih dikelola PT PAL. Karena sudah rusak, lampu di perumahan karyawan hampir tiga bulan tidak menyala pada malam hari,” ujar Sem kepada papuaglobalnews.com di sela mengikuti Pelatihan Manajemen Sanggar Kebudayaan dan Seni Amungme dan Kamoro yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika di Loresa SP3, Selasa 21 Juli 2026.

Selain persoalan listrik, para karyawan juga menuntut manajemen PT Karya Bella Vita segera memperbaiki rumah-rumah yang saat ini kondisinya sudah rusak sehingga dinilai tidak lagi layak dihuni.

Tuntutan lainnya meminta perusahaan menaikkan upah harian dari Rp100 ribu menjadi Rp200 ribu per hari.

Para pekerja juga meminta agar pembayaran hasil timbangan buah kelapa sawit dinaikkan dari Rp1000 per kilogram menjadi Rp5.000 per kilogram.

“Mereka menilai upah yang diterima saat ini sangat kecil dan tidak sebanding dengan kebutuhan hidup yang layak. Begitu juga pembayaran per kilogram sawit yang dinilai terlalu rendah. Mereka ingin ada peningkatan agar hasil kerja mereka bisa mencukupi kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, makan, minum dan kebutuhan lainnya,” kata Sem.

Ia menjelaskan, berdasarkan pengakuan para pekerja, penghasilan yang diterima setiap bulan hanya berkisar Rp1 juta hingga Rp2,5 juta. Nilai tersebut jauh lebih kecil dibandingkan ketika perkebunan masih dikelola PT PAL, di mana pendapatan karyawan bisa mencapai Rp4 hingga Rp5 juta per bulan.

Sem menambahkan, para karyawan yang mengikuti aksi tersebut terdiri dari Orang Asli Papua (OAP) maupun pekerja non-Papua.

Usai menerima aspirasi para pekerja, Sem mengaku langsung bertemu dengan Manajer PT Karya Bella Vita untuk menyampaikan seluruh tuntutan yang disampaikan para karyawan.

Ia berharap pihak perusahaan segera memberikan jawaban dan mengambil langkah konkret terhadap berbagai tuntutan tersebut.

“Harapan kami perusahaan secepatnya merespons dan memenuhi tuntutan para pekerja,” ujarnya.

Sem menyatakan mendukung penuh aksi yang dilakukan karyawan.

Apabila tuntutan tersebut tidak diakomodir oleh pihak perusahaan, dirinya bersama para karyawan akan kembali menggelar aksi demonstrasi di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Mimika serta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Mimika.

Melalui aksi tersebut, mereka akan meminta penjelasan mengenai komitmen perusahaan dalam memenuhi hak-hak dan kesejahteraan para karyawan. **