Oleh : Laurens Minipko

 

KABUT panas bukan hal baru. Ia sudah lama menyertai kekuasaan, bahkan sebelum dunia sibuk mengikuti Donald Trump. Ketika Kota Roma terbakar (18-19 Juli 64 Masehi), asap menutup langit kota. Kepanikan menyebar. Di balik itu, keputusan tetap berjalan. Sejak dulu, sejarah memberi isyarat yang sama: keriuhan sering datang bersamaan dengan pengalihan perhatian.

Di Mimika, kabut itu hadir bukan lewat pidato keras, melainkan lewat angka. Sepuluh persen divestasi saham Freeport. Angka yang terdengar menjanjikan. Angka yang memantik harapan. Sekaligus angka yang mengundang kehati-hatian.

Pembentukan Kewajaran

Klarifikasi kepala daerah penting dicatat. Secara struktur, pengelolaan divestasi berada di PT Papua Divestasi Mandiri. PT Mimika Abadi Sejahtera tidak berada di jalur itu. Garis kewenangan ditarik jelas. Kabut teknis disingkirkan.

Namun, patut disadari bahwa kekuasaan modern tidak hanya bekerja melalui aturan, melainkan melalui pembentukan kewajaran. Penjelasan administrasi memberi kepastian, tetapi kepastian tidak selalu identik dengan kejernihan etis.

Plato (427 – 347 SM) pernah mengingatkan bahwa terang bisa berwujud fatamorgana. Api memberi cahaya, tetapi juga menciptakan bayangan. Angka-angka hari ini sering bekerja seperti api – jelas, meyakinkan, namun tetap menyisakan ruang tafsir jika proses di baliknya tidak dibuka.

Dalam masyarakat tontonan, kata Guy Debord (1931 – 1994), kerja dipresentasikan sebagai rangkaian aktivitas yang terlihat. Daftar rencana dan kerja sama menunjukkan gerak. Tidak ada yang keliru. Hanya saja, pertanyaan tentang relasi kuasa dan proses pengambilan keputusan kerap berada di luar bingkai.

Legalitas, sebagaimana dijelaskan Max Weber (1864 – 1920), memberi dasar rasional. Tetapi etika publik menuntut jarak. Di sinilah perbedaan antara sah dan patut menjadi relevan, terutama ketika kekuasaan ekonomi bersinggungan dengan kedekatan personal.

Divestasi adalah peluang. Kita patut ingat bahwa peluang hanya bermakna jika tidak berakhir sebagai pengalihan kendali yang halus. Bahasa resmi, tambah Pierre Bourdieu, memiliki daya simbolik: ia bisa menutup percakapan, atau justru membukanya.

Kabut panas selalu punya fungsi. Ia membuat yang di depan tampak sibuk, sementara keputusan di belakang berjalan tenang. Polanya berulang, dari Roma hingga di sini hari ini.

Mimika tidak kekurangan penjelasan. Yang dibutuhkan adalah keberanian membuka proses. Karena kesejahteraan tidak lahir dari angka yang terdengar besar, melainkan dari kejernihan yang berani diawasi.

Kabut boleh datang. Tapi jangan diminta menjadi penutup. **