Umat Katolik di Indonesia dan Malaysia kini dapat mendengar suara Bapa Suci dan pesan Gereja universal dalam bahasa ibu mereka sendiri. Hal ini menjadi kabar baik bagi umat Katolik di Indonesia.

“Sejarah mencatat bahwa Vatikan termasuk di antara negara-negara berdaulat pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia,” kata Uskup Agustinus.

Sementara itu, Prefek Dikasteri Komunikasi, Paolo Ruffini, mengatakan bahwa “berbicara dalam bahasa ibu adalah salah satu cara terbaik. Ini menjadi pertimbangan untuk melayani rakyat Indonesia.”

Duta Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono mengungkapkan kebahagiaannya yang mendalam bahwa setelah perjalanan panjang, penandatanganan MoU akhirnya menjadi kenyataan.

“Penandatangan tersebut merupakan momen bersejarah bagi kita, bagi rakyat Indonesia, bagi Gereja Indonesia juga. Penetapan MoU ini membuka pintu untuk pencapaian lebih lanjut,” katanya.

Trias juga menekankan bahwa tugas selanjutnya membutuhkan keseriusan, dedikasi, konsistensi, serta dukungan sumber daya keuangan dan teknologi.

“Pekerjaan ini hanya dapat dilakukan secara industri karena kita harus berbagi ini dengan semua orang,” ungkapnya. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.