Sebanyak 89 persen pasien TBC di Mimika telah mengetahui status HIV mereka. Selain itu, seluruh ODHIV yang baru memulai terapi antiretroviral telah menjalani skrining TBC. Dalam periode yang sama, ditemukan 46 kasus koinfeksi TBC-HIV.

Meski demikian, Linus mengakui masih terdapat tantangan dalam implementasi layanan terpadu, terutama terkait pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi ODHIV yang memenuhi syarat.

“Dari 48 ODHIV yang eligible menerima TPT, baru lima orang atau sekitar 10 persen yang telah mendapatkan layanan tersebut. Ini menjadi perhatian bersama bahwa implementasi layanan terpadu masih perlu diperkuat di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” kata Linus.

Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, Linus berharap seluruh fasilitas pelayanan kesehatan memiliki pemahaman yang sama terkait penerapan OSS TBC-HIV, termasuk penguatan pencatatan dan pelaporan melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dan Sistem Informasi HIV-AIDS (SIHA).

Selain itu, fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Mimika diharapkan dapat menyusun rencana tindak lanjut untuk memperkuat implementasi OSS TBC-HIV guna menekan angka kesakitan dan kematian akibat kedua penyakit tersebut. **

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Golfried Maturbongs (tengah) didampingi Linus Dumatubun, Kabid P2) Dinkes pada kegiatan sosialisasi OSS TBC-HIV bersama penanggungjawab program TBC-HIV seluruh rumah sakit dan puskesmas di Timika, Rabu 13 Mei 2026. (Foto – Istimewa).