“Pada prinsipnya, analisis gempa yang dilakukan BMKG bergantung pada catatan gempa yang terjadi sebelumnya, terutama gempa utama,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan gempa bumi umumnya terjadi di kawasan ring of fire atau cincin api Pasifik, yaitu wilayah yang berada pada pertemuan lempeng tektonik.

Untuk wilayah Papua, zona gempa yang paling aktif berada di bagian utara, seperti Jayapura, Biak, Pegunungan Papua, Sorong dan Nabire. Sementara Timika tidak berada langsung di jalur utama cincin gempa tersebut, meskipun getaran dari gempa di wilayah lain masih dapat dirasakan.

Marsareza menegaskan potensi gempa bumi selalu ada, namun hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa akan terjadi. Karena itu masyarakat diminta tidak mudah percaya pada informasi yang tidak berasal dari sumber resmi. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.