Wajah Sejanus di Wajah Purbaya
Oleh : Laurens Minipko
PURBAYA Yudhi Sadewa sedang memaparkan soal surat utang pemerintah dalam rapat bersama Dewan Perwakilan Daerah pada Senin siang, 14 September 2026, ketika pimpinan rapat menyela: ada telepon untuk sang menteri. Rapat diskors beberapa menit. Purbaya tak kembali melanjutkan perannya sebagai Menteri Keuangan. Sore harinya, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai penggantinya.
Adegan itu singkat, dan justru karena singkat ia terasa telanjang. Tidak ada pidato perpisahan, tidak ada konferensi pers, tidak ada jeda bagi publik untuk melihat proses politik di baliknya. Yang tampak hanyalah pejabat yang sedang bekerja, sebuah telepon, rapat yang berhenti, lalu jabatan yang berpindah tangan.
Di situlah wajah Sejanus seperti muncul kembali—bukan sebagai tuduhan bahwa Purbaya adalah Sejanus, apalagi bahwa Presiden adalah Tiberius. Sejarah tidak boleh dipakai secara malas untuk menempelkan dosa masa lalu kepada orang masa kini. Perbandingan ini hanya berguna sebagai cermin: ia membantu melihat satu pola lama dalam politik kekuasaan, yaitu betapa cepatnya seorang pejabat dapat berubah dari pelaksana kebijakan menjadi persoalan politik.
Sejanus dan Politik Kecurigaan
Lucius Aelius Sejanus (20 SM–31 M) adalah prefek Pengawal Praetorian pada masa Kaisar Tiberius. Ia memperoleh kepercayaan besar dan bertahap menjadi administrator utama kekaisaran, kekuasaannya membesar ketika Tiberius menjauh dari Roma dan menetap di Capri—mengendalikan akses ke kaisar dan membangun jaringan hingga menjadi figur paling berpengaruh di kekaisaran.
Namun kekuasaan dalam monarki bukan kepemilikan; ia pinjaman yang dapat ditarik kapan saja oleh pemilik sumber legitimasi. Pada 31 M, ketika kecurigaan Tiberius terhadap ambisi Sejanus menguat, kaisar mengirim surat kepada Senat yang mengecamnya. Sejanus ditangkap dan dieksekusi hari itu juga; sekutu dan keluarganya ikut terseret dalam teror politik.
Pelajaran terpenting dari kisah ini bukan bahwa Sejanus pejabat ambisius yang pantas jatuh—sumber kuno memang menampilkan tuduhan semacam itu, tetapi sejarah politik selalu ditulis pihak yang menang. Pelajaran yang lebih penting adalah cara kekuasaan bekerja lewat persepsi tentang ancaman: penguasa tak perlu menunggu bawahannya benar-benar berkhianat. Cukup ada keyakinan bahwa ia telah memiliki pengaruh, jaringan, atau otonomi yang terlalu besar. Kompetensi pun berhenti menjadi pelindung; ia berubah menjadi bukti bahwa seseorang sudah terlalu kuat untuk dibiarkan.
Ketika Pola Sejanus Berulang di Zaman Modern
Pola itu tidak berhenti di Roma. Pada Oktober 1964, Nikita Khrushchev berlibur di Pitsunda, tepi Laut Hitam, ketika telepon dari Moskow memanggilnya pulang—bukan untuk memimpin Politbiro, melainkan mendengar dirinya dilengserkan oleh orang-orang yang selama ini duduk di sekelilingnya. Tak ada drama terbuka; hanya panggilan telepon, penerbangan pulang, dan kekuasaan yang sudah berpindah sebelum ia tiba.
Pada Mei 2017, James Comey sedang berbicara di hadapan pegawai FBI di Los Angeles ketika layar televisi di belakangnya menyiarkan berita bahwa Presiden Donald Trump baru saja memecatnya sebagai Direktur FBI—ia mengetahui pemecatan dirinya sendiri dari siaran berita. Setahun kemudian, Menteri Luar Negeri Rex Tillerson mengalami pola serupa: kabar pemecatannya beredar lewat cuitan presiden saat ia masih dalam kunjungan kerja di Afrika, sebelum penjelasan resmi apa pun sampai kepadanya.
Ketiganya berasal dari sistem politik yang berbeda—Soviet dan demokrasi presidensial Amerika—namun bentuknya serupa: pejabat menjalankan fungsinya secara normal ketika keputusan tentang nasibnya sudah diambil di ruang lain, tanpa dirinya. Yang berubah hanya medium pengumuman: surat kepada Senat, panggilan telepon, layar televisi, atau cuitan media sosial. Nalurinya tetap sama seperti masa Tiberius.
Purbaya dan Adegan yang Belum Selesai Ditafsirkan
Dalam kasus Purbaya, fakta publiknya terbatas tetapi jelas. Ia dilantik sebagai Menteri Keuangan pada September 2025 menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Hampir setahun kemudian ia dicopot dalam reshuffle, digantikan Suahasil—sebelumnya Wakil Menteri Keuangan—tak lama setelah rapat DPD-nya mendadak diskors karena sebuah telepon.
Dari fakta itu, kita belum dapat menyimpulkan motif pencopotan. Pergantian menteri adalah kewenangan presiden; alasan politik, koordinasi, kebijakan fiskal, atau pertimbangan lain bisa saja melatarinya. Tetapi sampai penjelasan memadai disampaikan, publik tidak seharusnya mengisi ruang kosong itu dengan kepastian palsu.
Yang dapat dibaca sekarang adalah bentuk peristiwanya. Purbaya tidak diberhentikan lewat drama terbuka di ruang sidang, tidak dipanggil mempertanggungjawabkan kegagalan yang diumumkan ke publik. Ia sedang menjalankan fungsi kelembagaan ketika proses penggantian dirinya berlangsung di tempat lain. Dalam hitungan jam, status politiknya berpindah—sama seperti Khrushchev yang pulang berlibur sebagai pemimpin dan tiba sebagai warga biasa, atau Comey yang membuka pidato sebagai direktur dan menutupnya sebagai mantan direktur.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.




















