Uang yang Berputar di Trotoar
Suasana malam mama-mama Papua menjual hasil tani di atas trotoar Jalan Cenderawasih SP 2 Kelurahan Timika Jaya Distrik Mimika Baru, Senin 14 September 2026. (Foto – Istimewa/papuaglobalnews.com).
Oleh : Laurens Minipko
PADA suatu malam, di trotoar depan Pasar SP. 2, kira-kira dua puluh mama Papua duduk berderet. Mereka menjual hasil kebun: pisang nona, pisang raja, anakan keladi, singkong, patatas, daun singkong, daun patatas, keladi, serta buah dan daun pepaya.
Trotoar itu semestinya ruang bagi pejalan kaki. Namun pada malam itu ia menjadi pasar, ruang kerja, tempat pengasuhan, dan titik temu bagi berbagai kebutuhan. Di sana hasil kebun bertemu uang tunai. Di sana pula kerja perempuan, konsumsi anak, dan keberlangsungan keluarga berlangsung hampir tanpa jeda.
Saya bertanya kepada Mama Wilmina tentang harga pisang raja. Satu sisir kecil Rp20 ribu, yang sedang Rp30 ribu, dan yang paling besar Rp50 ribu. Malam itu baru satu sisir yang terjual. la telah menjual dua sisir kecil, dua sisir sedang, dan satu sisir besar.
Di sampingnya, seorang lelaki menjajakan bakso dengan sepeda motor. Semangkuk pentolan kecil dihargai Rp15 ribu, sedangkan pentolan besar Rp20 ribu. Anak-anak para mama Papua mengantre. Yusuf, putra Mama Wilmina yang berusia sekitar enam tahun, termasuk di antara mereka.
la sudah memesan bakso pentolan besar. Dari mana uangnya? “Sa minta dari sa pu mama,” katanya. Mama memberinya Rp20 ribu. Uang itu adalah uang yang baru saja saya bayarkan untuk membeli sesisir pisang miliknya.
Di situlah sebuah ekonomi kecil memperlihatkan wajahnya yang lengkap. Uang berpindah dari pembeli kepada mama, dari mama kepada anak, lalu dari anak kepada penjual bakso. Nilai nominalnya tetap Rp20 ribu. Tetapi manfaatnya berubah-ubah: bagi pembeli, uang itu menjadi pisang; bagi Mama Wilmina, menjadi pendapatan; bagi Yusuf, menjadi semangkuk bakso; bagi penjual bakso, menjadi pemasukan untuk membeli bahan dan melanjutkan dagangan. Uang itu tidak bertambah. Ia hanya berputar. Tetapi dalam perputaran itulah ekonomi hidup.
Ekonomi yang Tidak Tercatat
Kita sering membayangkan ekonomi melalui angka-angka besar: pertumbuhan, investasi, inflasi, dan produk domestik bruto. Kita berbicara tentang pasar modal, industri, dan belanja pemerintah. Semua itu penting. Namun kehidupan ekonomi sebagian besar warga juga berlangsung melalui transaksi kecil yang jarang masuk ke laporan resmi pemerintah daerah.
Satu sisir pisang. Semangkuk bakso. Uang tunai yang berpindah tangan. Seorang ibu yang menjual hasil kebun sambil menjaga anak. Seorang pedagang yang memasak, menyajikan, dan mengantar makanan dengan sepeda motor.
Di balik transaksi sederhana itu terdapat rantai kerja yang panjang. Pisang tidak muncul begitu saja di trotoar. Ada tanah yang diolah, tanaman yang dirawat, hasil yang dipanen, barang yang dipilih, dan komoditas yang dibawa ke pasar. Bakso juga tidak lahir dari udara. Ada daging, telur, mie, bihun, kerupuk, bumbu, bahan bakar, alat masak, kendaraan, serta waktu yang digunakan untuk melayani pembeli. Semua itu adalah kerja. Sebagian dibayar. Sebagian lain tidak.
Mama Wilmina menjual pisang, tetapi pada waktu yang sama ia juga bekerja sebagai pengasuh anak. la harus menjaga barang dagangan, melayani pembeli, mengatur uang, dan memastikan Yusuf tetap berada dalam pengawasannya. Kerja pengasuhan itu tidak tercantum dalam harga pisang. Namun tanpa kerja tersebut, rumah tangga tidak berjalan dengan cara yang sama.
Di sinilah ekonomi informal bertemu dengan reproduksi sosial. Ekonomi informal menyediakan pendapatan bagi mereka yang tidak sepenuhnya terjangkau oleh pekerjaan formal. Reproduksi sosial menyediakan makanan, perawatan, pengasuhan, dan tenaga yang memungkinkan masyarakat terus bekerja dari hari ke hari.
Keduanya berjalan beriringan di atas trotoar.
Agensi di Tengah Keterbatasan
Ada kecenderungan memandang pedagang kecil hanya sebagai korban kemiskinan. Cara pandang itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi tidak lengkap. la mengabaikan pengetahuan, keputusan, dan daya tawar yang dimiliki para pedagang.
Mama Wilmina tahu bahwa pisang kecil, sedang, dan besar tidak dapat dijual dengan harga yang sama. la mengelompokkan komoditas, menetapkan harga, membaca kemungkinan permintaan, dan mengelola pendapatan. la juga tahu bahwa berjualan di depan pasar mempertemukannya dengan calon pembeli. la bukan hanya objek dari kemiskinan. la adalah pelaku ekonomi.
Dalam pendekatan kapabilitas Amartya Sen, kesejahteraan tidak diukur hanya dari berapa banyak uang yang dimiliki seseorang. Yang lebih penting ialah kebebasan nyata untuk memilih dan menjalani kehidupan yang dianggap bernilai. Dalam kerangka ini, tindakan Mama Wilmina menjual pisang menunjukkan agensi: ia mengubah hasil kebun, tenaga, waktu, lokasi, dan jaringan sosial menjadi pendapatan bagi keluarga.
Namun agensi bukan kebebasan tanpa batas. Mama mungkin memilih berjualan, tetapi belum tentu memiliki banyak pilihan lain. Apakah ia mempunyai akses ke modal? Apakah tersedia pekerjaan yang lebih aman? Apakah ada tempat usaha yang layak? Apakah ia memiliki perlindungan ketika sakit atau ketika dagangan tidak habis?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting agar kita tidak memuji ketangguhan perempuan sambil membiarkan struktur yang membuat mereka harus tangguh sepanjang waktu.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.




















