Oleh : Laurens Minipko

 

EKONOMI Mimika tersungkur bukan karena bencana yang datang tiba-tiba, melainkan karena daerah ini terlalu lama membiarkan dirinya bernapas dari satu lubang tambang.

Angka itu terpampang dingin di data Badan Pusat Statistik: minus 11,33 persen. Dalam paparan BPS bersama Kementerian Dalam Negeri mengenai pertumbuhan ekonomi seluruh kabupaten/kota se-Indonesia pada Triwulan I 2026, Mimika bertengger di posisi juru kunci paling rendah dari 469 daerah yang dianalisis. Bandingkan dengan Kabupaten Sumbawa Barat yang justru melesat 49,57 persen, pertumbuhan tertinggi nasional. Sebagian besar daerah lain di Indonesia bahkan berada jauh di zona aman: 27 kabupaten/kota tumbuh di atas 8 persen, 290 daerah di kisaran 5-8 persen, dan 152 daerah di kisaran 3-5 persen. Di tengah peta yang didominasi warna pertumbuhan positif itu, Mimika justru satu-satunya titik merah paling gelap.

Dalam paparan nasional bersama Kemendagri, BPS pusat memang belum merinci penyebabnya. Tapi dua pekan setelah angka itu diumumkan, Kepala BPS Mimika, Dian Sudarmanto, membuka kartu itu secara gamblang: penyebabnya adalah anjloknya produksi PT Freeport Indonesia. Ia membandingkan laporan pendapatan triwulanan perusahaan itu sendiri produksi emas yang pada Januari-Maret 2025 mencapai sekitar 284 ribu ons, merosot tajam menjadi hanya sekitar 92 ribu ons pada periode yang sama tahun 2026. Penurunan hampir 68 persen dalam setahun itulah yang, menurutnya, secara langsung menyeret pertumbuhan ekonomi Mimika ke titik minus dua digit. Ini bukan lagi dugaan yang dirunut dari luar, melainkan penjelasan resmi dari otoritas statistik daerah itu sendiri dan justru itulah yang membuatnya lebih meresahkan, sebab longsor GBC dan kebakaran smelter Gresik tahun lalu ternyata belum juga pulih sepenuhnya delapan bulan kemudian.

Ekonomi yang Hidup dari Satu Lubang

Yang membuat Mimika berbeda dari daerah lain yang sesekali terkena guncangan komoditas adalah tingkat ketergantungannya yang ekstrem, dan kali ini angkanya datang bukan dari perkiraan luar, melainkan dari mulut Kepala BPS Mimika sendiri: sektor pertambangan menyumbang lebih dari 80 persen Produk Domestik Regional Bruto Mimika. Bandingkan dengan angka 68 persen yang pernah disebut Presiden pada 2022, atau 73 persen yang disebut Gubernur Papua Tengah untuk skala provinsi. Apa pun angka persisnya, semua sumber bermuara pada kesimpulan yang sama: ini bukan sekadar sektor unggulan sebagaimana lazim dimiliki daerah kaya sumber daya. Ini adalah keadaan di mana satu perusahaan, secara harfiah, adalah ekonomi itu sendiri.

Ketika presiden terdahulu berpesan kepada bos Freeport agar berhati-hati mengelola perusahaan karena “begitu ini turun, Papua ikut turun, Timika turun,” itu bukan basa-basi seremonial. Itu pengakuan telanjang bahwa nasib satu kabupaten digantungkan pada kinerja satu tambang, satu smelter, bahkan satu terowongan bawah tanah yang bisa longsor kapan saja.

Ketika Tambang Batuk, Rakyat yang Demam

Di balik angka minus dua digit itu, ada pedagang di pasar Timika yang omzet-nya ikut menyusut begitu ribuan pekerja tambang dan rantai pasoknya kehilangan penghasilan. Ada rumah tangga yang bergantung pada belanja pegawai kontraktor Freeport. Ada pemerintah daerah yang penerimaannya termasuk bagian Rp1,92 triliun dari total setoran Freeport Rp7,73 triliun pada 2024 ikut menciut, sehingga belanja publik yang seharusnya menjadi bantalan justru ikut terpangkas di saat paling dibutuhkan.

Inilah yang oleh para ekonom disebut gejala Dutch disease dalam versi lokal: kekayaan dari satu sektor ekstraktif yang begitu dominan justru melemahkan daerah untuk tidak membangun sektor lain. Pertanian, perikanan, pariwisata, dan UMKM di Mimika tumbuh di bawah bayang-bayang raksasa tambang, tak pernah cukup diberi ruang fiskal maupun politik untuk menjadi penopang yang setara. Ketika raksasa itu terguncang oleh longsor, kebakaran smelter, atau sekadar siklus harga komoditas global tidak ada bantal yang cukup tebal untuk menahan jatuhnya rakyat kecil.

Ketika yang Tumbuh Tak Cukup Menyelamatkan

Yang menarik, dan sekaligus menyedihkan, dari penjelasan Dian Sudarmanto adalah pengakuannya bahwa tidak semua sektor di Mimika sebenarnya memburuk. Pertanian masih tumbuh 1,32 persen. Industri pengolahan, pengadaan listrik dan gas, serta perdagangan besar dan eceran juga masih mencatat pertumbuhan positif pada triwulan yang sama. Dengan kata lain, ada denyut ekonomi lain yang sebenarnya hidup dan bergerak maju di Mimika hanya saja denyut itu terlalu kecil untuk didengar di tengah gemuruh kontraksi pertambangan yang mendominasi lebih dari 80 persen struktur ekonomi daerah.