Timika,papuaglobalnews.com – Tim Harmoni Kabupaten Deiyai yang berjumlah 33 orang batal bertemu warga Suku Mee di Mogodadi, Distrik Kapiraya  pada Senin 2 Maret 2026. Pembatalan tersebut terjadi setelah rombongan disambut lima kali tembakan peringatan saat tiba di Pelabuhan Logpon, Kapiraya.

Tim yang bertolak dari Jembatan Dua Pomako, Distrik Mimika Timur, sekitar pukul 05.30 WIT menggunakan dua perahu bermotor (jhonson), tiba di Pelabuhan Logpon sekitar pukul 12.00 WIT. Namun, setibanya di Kali Yaweuta, rombongan tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Hal itu disampaikan Decky Tenoye, Kepala Suku Besar Mee Pago 8 Kabupaten, melalui sambungan telepon kepada papuaglobalnews.com, Senin 2 Maret 2026.

Decky menjelaskan, dari 33 orang tersebut terdiri atas 13 anggota Polres Deiyai dan 20 anggota Tim Harmoni. Keberangkatan dipimpin Ketua Tim Harmoni Deiyai Ernes Kotoki, didampingi Kepala Suku Mee Papua Tengah Melkias Muyapa.

Ia menjelaskan, satu perahu mengangkut bahan makanan (bama) untuk masyarakat Deiyai, sementara satu perahu lainnya mengangkut anggota Tim Harmoni.

“Setelah mendengar bunyi tembakan lima kali, anggota Polres Deiyai menyampaikan bahwa itu merupakan tembakan peringatan dari aparat keamanan yang berjaga di pelabuhan sebagai tanda larangan untuk masuk,” ujar Decky.

Mendapat penjelasan tersebut, rombongan memutuskan kembali ke Timika dan tiba di Pelabuhan Pomako sekitar pukul 14.00 WIT.

Sebagai tokoh adat Suku Mee, Decky menyayangkan pelarangan terhadap Tim Harmoni Kabupaten Deiyai untuk melintasi akses wilayah Kapiraya. Ia menegaskan kedatangan tim tersebut membawa misi damai, sama seperti kunjungan Bupati Mimika Johannes Rettob bersama Kapolda Papua Tengah dan Kapolres Mimika pada Jumat 27 Februari 2026 lalu dalam rangka mendorong perdamaian.

“Saya sangat menyesal atas kejadian siang tadi. Padahal dalam rapat koordinasi dan harmonisasi tanggal 25 Februari 2026 di Grand Tembaga sudah disepakati bahwa tim harmonisasi Mimika, Deiyai, dan Dogiyai berangkat lebih dulu ke Kapiraya,” jelasnya.

Menurut Decky, Tim Harmoni dari Mimika bahkan telah lebih dahulu menuju Kapiraya. Ia pun mempertanyakan mengapa pelarangan tersebut masih terjadi.

“Tim harmoni yang kita bentuk ini untuk perdamaian, bukan untuk ajang perang. Bama yang kami bawa untuk membantu masyarakat Mogodadi dalam penyelesaian tapal batas adat,” tegasnya.

Decky juga menyayangkan adanya penolakan dari sebagian keluarga besar Kamoro di Kapiraya terhadap kehadiran Tim Harmoni Deiyai. Ia menegaskan tujuan kedatangan tim semata-mata untuk membantu proses penyelesaian tapal batas secara damai.

Dengan batalnya pertemuan tersebut, Tim Harmoni Deiyai berencana menggelar rapat lanjutan guna mencari solusi, termasuk kemungkinan mengundang perwakilan tokoh adat dari enam kampung di Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai, serta lima kampung di Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika, untuk bertemu di Timika atau Nabire.

“Kejadian ini akan kami laporkan terlebih dahulu kepada Tim Harmoni Provinsi Papua Tengah sebagai fasilitator penyelesaian Kapiraya. Dari situ kita menunggu arahan selanjutnya,” katanya.

Decky juga mengimbau seluruh masyarakat, baik Kamoro maupun Mee, agar tidak mudah terprovokasi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab dan dapat menghambat proses perdamaian.

“Semua tim harmoni dari tiga kabupaten ini datang dengan tujuan yang sama, yaitu perdamaian. Jadi mari kita dukung bersama,” harapnya.

Ia menambahkan, akses satu-satunya bagi masyarakat Mee menuju Kapiraya dalam rangka proses perdamaian tersebut hanya melalui jalur pelabuhan. **