​Program ini mengintegrasikan perlindungan ekosistem hutan tempat buah merah tumbuh dengan ekonomi hijau global. Alih-alih hanya menjual produk fisik, organisasi juga memposisikan kawasan hutan sebagai penyedia jasa lingkungan.

Pilar Utama Program:

  • Sertifikasi Karbon Biru/Hijau: Melakukan penghitungan serapan karbon (CO_2) dan produksi oksigen dari populasi pohon Pandanus conoideus di wilayah kelola. Hal ini memungkinkan akses ke pendanaan iklim internasional.
  • Eco-Labeling Produk: Menyematkan label pada setiap produk olahan yang menyatakan bahwa pembelian produk tersebut berkontribusi langsung pada pelestarian “Paru-paru Dunia” di Papua.
  • Ekowisata Edukasi Literasi: Membangun pusat pembelajaran di mana pengunjung dapat mempelajari sistem numerasi lokal sekaligus proses invensi pengolahan buah merah dari hulu ke hilir.

Langkah Operasional Terdekat:

  1. Audit Biomassa: Menghitung kapasitas produksi oksigen tahunan di area konservasi untuk dikonversi menjadi unit kredit karbon.
  2. Standarisasi Invensi: Memastikan seluruh alur produksi mulai dari pemetikan hingga menjadi serbuk atau minyak memenuhi standar mutu industri tanpa merusak integritas lingkungan.
  3. Kemitraan Strategis: Membangun jejaring dengan pemangku kepentingan industri besar untuk program kompensasi emisi melalui pelestarian hutan Sayc.

​Dengan menambahkan program ini, industri tidak hanya menghasilkan profit dari komoditas, tetapi juga menjadi benteng pertahanan iklim yang memiliki nilai tawar tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, dengan mengelola buah merah secara terintegrasi dan profesional dalam membangun kekuatan ekonomi Papua tidak perlu dengan merusak hutah untuk menanam sawit. Membuka hutan secara besar-besaran sudah sangat jelas dari awal diketahui bahwa berdampak pada mengganggu ekosistem alam serta hilangnya paru-paru dunia. Tetapi lewa pola melestarikan buah merah melalui penanaman secara berkelanjutan di tengah hutan jauh lebih menjaga bumi dan ekosistem di dalamnya tetap terjaga serta terplihara dengan baik. Dari situ masyarakat Papua tetap memperoleh manfaat ganda, selain ketersediaan oksigen sebagai ketahanan paru-paru dunia tetap stabil yang memberi manfaat luas bagi dunia dan disisi lain asas manfaat ekonomi memberikan potensi keuntungan bagi masyarakat Papua sendiri selaku pemilik hutan. **