Pernyataan Sikap Pastoral Ketua Sinode GKII Papua Tengah Atas Tragedi Kemanusiaan di Kembru Puncak
Oleh : Pdt. Dr. Hansk Wakerkwa, M. Si
Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) di Papua Tengah Pdt. Dr. Hansk Wakerkwa,M.Si mengeluarkan pernyataan sikap tegas pastoral GKII tentang tragedi kemanusiaan penembakan di Kembru di Kabupaten Puncak dan propaganda media yang dinilainya telag merugikan serta pembunuhan karakter terhadap pemimpin Papua.
Dengan penuh duka dan keprihatinan yang mendalam, saya selaku Pimpinan Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia Papua Tengah menyampaikan suara kenabian atas tragedi penembakan yang kembali merenggut sepuluh nyawa manusia, yang adalah warga sipil, di Distrik Kembru, serta saudara-saudara kita di Tanah Papua. Peristiwa ini bukan hanya melukai keluarga korban, tetapi juga melukai hati seluruh masyarakat Papua dan bangsa Indonesia, serta meninggalkan trauma yang berkepanjangan.
Gereja berdiri teguh untuk mengecam keras segala bentuk kekerasan yang merampas hak hidup manusia. Setiap nyawa adalah ciptaan Allah yang kudus dan berharga di hadapan-Nya. Tidak ada alasan ataupun pembenaran bagi siapa pun untuk menindas dan menghilangkan nyawa sesama manusia.
Kami juga dengan tegas menolak segala bentuk propaganda melalui siaran televisi maupun media sosial yang mengarah pada pembunuhan karakter terhadap para pemimpin Papua.
Fitnah, manipulasi, dan pemberitaan yang tidak adil merupakan bentuk ketidakbenaran yang merusak martabat manusia serta memperdalam luka sosial yang dapat berlangsung seumur hidup.
Para pemimpin yang berjuang bagi rakyatnya patut dihormati, bukan dijatuhkan melalui narasi yang menyesatkan. Gereja menyerukan agar media dan semua pihak menjunjung tinggi integritas, kebenaran, dan keadilan dalam setiap pemberitaan.
Kepada keluarga korban, kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Dalam solidaritas iman, kami menyerukan Doa Nasional yang dilaksanakan secara serentak pada tanggal 1-31 Mei 2026 oleh seluruh umat Tuhan di Tanah Papua, kiranya kasih Kristus yang mengalahkan maut menguatkan hati dan memberikan pengharapan.
Kepada para pelaku kekerasan, Gereja menyerukan pertobatan dan perubahan hidup, sebab jalan kekerasan hanya membawa kehancuran serta meninggalkan luka dan trauma yang mendalam.














