Kepada seluruh bangsa Indonesia, Gereja berseru: hentikan air mata masyarakat Papua. Biarlah keadilan ditegakkan, kebenaran dijunjung tinggi, dan damai sejahtera Allah menjadi dasar kehidupan bersama di negeri ini.

Sebagai gembala umat, saya mengingatkan seluruh umat di Tanah Papua dan Indonesia bahwa panggilan Gereja adalah menjadi suara kenabian: menegakkan keadilan, membela yang tertindas, serta menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah dunia.

Tragedi kematian orang-orang yang tidak bersalah di Tanah Papua merupakan panggilan bagi kita semua untuk tidak berdiam diri, melainkan berdiri bersama demi kemanusiaan.

Pernyataan Sikap:

1. Menghentikan segala bentuk pendekatan kekerasan, serta mengedepankan pendekatan yang humanis dan kekeluargaan.

2. Menarik seluruh personel Tentara Nasional Indonesia non-organik yang bertugas di Tanah Papua.

3. Menghentikan segala bentuk kekerasan struktural yang mengorbankan masyarakat sipil demi kepentingan negara.

4. Mendesak agar seluruh pelaku pelanggaran kemanusiaan segera diadili dan dijatuhi hukuman sesuai hukum yang berlaku.

5. Hentikan teror dan intimidasi terhadap Pastor dan Pendeta, serta aktivis Ham yang bersuara demi keadilan dan kebenaran bagi umat dan masyarakat Papua dan Indonesia pada umumnya.

Demikian pernyataan pastoral ini kami sampaikan sebagai wujud tanggung jawab iman dan panggilan Gereja untuk menghadirkan terang Kristus di tengah kegelapan dan kekejaman dunia. **