Ribuan Umat Katolik di Timika Rayakan Minggu Palma, RP. Gabriel Ngga: Perilaku Kita Sering Menyalibkan Yesus
“Pesan ini sangat relevan dengan situasi saat ini, baik di Papua maupun dunia. Kita merindukan damai, tetapi sering terjebak dalam konflik,” tegasnya.
Menurutnya, mengikuti Kristus berarti berani memutus rantai kekerasan dengan mengedepankan dialog, pengampunan, dan rekonsiliasi.
RP. Gabriel juga menekankan damai di tanah Papua hanya dapat terwujud jika semua pihak memiliki keberanian untuk saling mengasihi, seperti yang diajarkan Kristus.
Ia menambahkan, penderitaan yang dialami manusia saat ini baik karena ekonomi, ketidakadilan, maupun rasa tidak aman tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
“Yesus hadir dalam setiap tetesan air mata. Ia merayakan hosana bersama kita, tetapi juga memanggul salib bersama kita,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, daun palma bukan sekadar simbol liturgi tahunan, melainkan lambang kemenangan iman atas keputusasaan.
“Mari kita membawa makna daun palma dalam kehidupan sehari-hari sebagai penolakan terhadap kekerasan dan sebagai dorongan untuk tingkatkan kepedulian terhadap sesama,” pesannya.
Di akhir homili, ia mengajak umat untuk tetap setia pada nilai-nilai kebenaran meskipun menghadapi berbagai tantangan, serta mendoakan agar Tuhan senantiasa memberkati umat dan menghadirkan damai, khususnya di tanah Papua. **
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.




















