Refleksi : Peresmian Gedung Gereja Kingmi Jemaat Sinai Menjadi Momentum Perdamaian dan Pemulihan Hidup
Oleh karena itu, momentum ini harus menjadi:
- Momentum kembali kepada Tuhan. Mari meninggalkan jalan kebencian dan kembali berjalan di jalan Tuhan, yaitu jalan kasih, kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera.
- Momentum saling mengampuni dan berdamai. Jika ada kesalahan, marilah kita berani meminta maaf. Jika ada luka, marilah kita belajar mengampuni. Jangan menunggu orang lain mengambil langkah pertama, tetapi mulailah dari diri kita sendiri.
- Momentum memulihkan kehidupan keluarga dan kerukunan bertetangga. Jangan biarkan persoalan masa lalu menghancurkan keluarga, memutus persaudaraan, dan merusak hubungan antartetangga. Marilah kita kembali hidup saling menghormati, menolong, dan mengasihi.
- Momentum melepaskan doa pemberkatan, bukan kutukan. Marilah kita mendoakan orang-orang yang pernah berselisih dengan kita. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi berusahalah menghadirkan kasih dan pengampunan Kristus dalam setiap hubungan.
- Momentum membangun perdamaian yang berkelanjutan. Peresmian ini jangan hanya menjadi jeda sementara dari permusuhan. Jangan hanya berdamai selama acara berlangsung, kemudian kembali bermusuhan setelah semua orang pulang. Perdamaian harus menjadi komitmen dan jalan hidup kita setiap hari.
Saudara-saudari yang terkasih, jangan hanya membuka pintu gedung gereja, tetapi bukalah pintu hati untuk saling menerima. Jangan hanya meresmikan bangunan, tetapi resmikanlah juga keputusan untuk berdamai. Jangan hanya mengucapkan doa pemberkatan, tetapi jadilah berkat bagi keluarga, tetangga, gereja, dan masyarakat.
Biarlah sejak peresmian ini, setiap keluarga dipulihkan, setiap hubungan yang rusak mulai diperbaiki, setiap permusuhan diakhiri, dan setiap hati kembali dipenuhi kasih Tuhan Yesus Kristus.
Kiranya gedung Gereja KINGMI Jemaat Sinai menjadi rumah doa, rumah pengampunan, rumah persaudaraan, dan pusat perdamaian bagi semua orang.
Mari kembali kepada Tuhan, berjalan di jalan damai, saling mengampuni, dan hidup dalam kasih. Jangan hanya berdamai hari ini, tetapi peliharalah perdamaian sepanjang hidup kita. **
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.









