Dengan nada tinggi, warga tersebut mempertanyakan sambil menunjuk ke arah jenazah Okto Tigau apakah korban itu binatang atau manusia sehingga telinganya dipotong.

Ia mengatakan, satu peluru saja sudah dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia, namun dalam kasus tersebut hampir lima peluru masuk ke tubuh korban.

Ia bahkan mempersilakan semua pihak untuk melihat sendiri kondisi jenazah tersebut.

Menurutnya, kasus-kasus seperti ini tidak pernah mampu terungkap hingga ke Jakarta dan hanya berputar-putar tanpa penyelesaian.

Warga tersebut juga mengungkapkan bahwa kasus Pendeta Yeremia dapat terungkap itu karena ditangani oleh pihak pastoran sehingga menjadi perhatian hingga ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara warga lainnya, dengan penuh kekhawatiran, mengatakan persoalan tersebut harus segera ditangani dengan baik. Jika tidak, masyarakat Intan Jaya yang masih tersisa dikhawatirkan akan terus menjadi korban.

“Sisa dari yang tersisa ini kita harus selamatkan,” kata warga lainnya.

Sementara pada video berdurasi satu menit 43 detik seorang warga menyampaikan bahwa mereka bukan binatang sehigga dibunuh dan telinganya sengaja dihilangkan.

Warga juga mengungkapkan selain terdapat lima luka bekas tembakan juga terjadi mutilasi telinga korban, dipotong.

Warga juga sesalkan dalam satu hari dua nyawa menjadi korban. **