Intan Jaya,papuaglobalnews.com – Suasana duka benar-benar menyelimuti masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Teranyar, Bupati Intan Jaya Aner Maisini didampingi Elias Igapa Wakil Bupati dengan penuh emosional, haru, dan perasaan kecewa mengunjungi serta menyaksikan rakyatnya meninggal dunia pada Rabu 1 Juli 2026, setelah diberondong lebih dari lima kali tembakan pada bagian dada, Selasa 30 Juni 2026.

Dalam rekaman video berdurasi 1 menit 22 detik yang beredar luas di sejumlah grup WhatsApp pada Rabu 1 Juli 2026, terlihat Bupati Aner mengenakan baju putih lengan panjang, celana panjang hitam, dan sepatu hitam. Ia membuka setengah bagian bajunya hingga baju dalam berwarna putih terlihat jelas saat menyaksikan langsung kondisi jenazah warganya, Okto Tigau, yang terbaring kaku dalam posisi tengkurap di sekitar Pos Militer Indonesia (Maleo), Kampung Mamba, Distrik Sugapa.

Suasana di lokasi diwarnai rintihan kesedihan serta isak tangis keluarga dan warga yang memecahkan kesunyian.

Dengan nada penuh sesal dan kecewa, Bupati Aner yang didampingi Wakil Bupati Elias Igapa, dengan gestur wajah marah dan kesal, menyampaikan bahwa korban adalah manusia, bukan binatang, sehingga tidak seharusnya ditembak.

Menurutnya, bagaimana masyarakat bisa hidup dengan aman apabila situasi di pusat kota saja sudah seperti itu.

Sementara dalam video lain berdurasi 50 detik yang masih direkam di lokasi penemuan jenazah, Bupati di hadapan aparat TNI-Polri yang lengkap dengan senjata, bersama warga, meminta agar aparat melakukan interogasi tanpa kekerasan.

Menurutnya, apabila seseorang benar-benar diketahui sebagai simpatisan atau anggota OPM, maka seharusnya ditahan dan diproses sesuai hukum yang berlaku, bukan ditempuh dengan cara-cara kekerasan seperti penembakan.

Ia menegaskan bahwa sebagai aparat keamanan, tugas utama adalah menyelamatkan masyarakat, bukan menghabisi nyawa mereka.

Sementara itu, salah seorang warga dalam video berdurasi 1 menit 4 detik mengungkapkan kekecewaannya atas peristiwa tersebut.

Warga itu dengan suara keras mengatakan bahwa suatu saat pemerintah yang mengenakan pakaian dinas pun bisa saja ditembak mati, kemudian disampaikan alasan bahwa itu merupakan peluru nyasar.

“Biar dia Bupati pasti ditembak. Nanti baru sampaikan bahwa itu peluru kesasar, itu bahasanya,” tegas oknum warga tersebut.

Dengan nada tinggi, warga tersebut mempertanyakan sambil menunjuk ke arah jenazah Okto Tigau apakah korban itu binatang atau manusia sehingga telinganya dipotong.

Ia mengatakan, satu peluru saja sudah dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia, namun dalam kasus tersebut hampir lima peluru masuk ke tubuh korban.

Ia bahkan mempersilakan semua pihak untuk melihat sendiri kondisi jenazah tersebut.

Menurutnya, kasus-kasus seperti ini tidak pernah mampu terungkap hingga ke Jakarta dan hanya berputar-putar tanpa penyelesaian.

Warga tersebut juga mengungkapkan bahwa kasus Pendeta Yeremia dapat terungkap itu karena ditangani oleh pihak pastoran sehingga menjadi perhatian hingga ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara warga lainnya, dengan penuh kekhawatiran, mengatakan persoalan tersebut harus segera ditangani dengan baik. Jika tidak, masyarakat Intan Jaya yang masih tersisa dikhawatirkan akan terus menjadi korban.

“Sisa dari yang tersisa ini kita harus selamatkan,” kata warga lainnya.

Sementara pada video berdurasi satu menit 43 detik seorang warga menyampaikan bahwa mereka bukan binatang sehigga dibunuh dan telinganya sengaja dihilangkan.

Warga juga mengungkapkan selain terdapat lima luka bekas tembakan juga terjadi mutilasi telinga korban, dipotong.

Warga juga sesalkan dalam satu hari dua nyawa menjadi korban. **