Oleh : Laurens Minipko

 

DI Lapangan Satuan Latihan Brimob Cikeas, Bogor, pagi itu (1 Juli 2026) ribuan pasang mata mengarah ke satu titik: sebuah bintang kehormatan yang akan disematkan kepada sejumlah anggota Polri yang berprestasi dan menginspirasi. Di antara enam nama yang dipanggil untuk menerima Bintang Bhayangkara Nararya, ada satu nama yang barangkali tidak terlalu ramai diperbincangkan di ibu kota, tetapi punya makna besar bagi kita di tanah Papua: AKP Nengsi Marline Waromy.

Ia bukan wajah baru bagi institusi kepolisian di Papua Barat. Beberapa bulan sebelum namanya disebut di Cikeas, Nengsi tercatat sebagai satu dari dua perwira polisi wanita asli Papua yang menembus jajaran Pejabat Utama Polda Papua Barat—dilantik sebagai Kepala Sekretariat Umum, sebuah posisi strategis yang jarang diisi oleh putri daerah sendiri. Dalam struktur kepolisian yang masih didominasi rotasi pejabat dari luar Papua, kehadirannya di kursi PJU adalah catatan tersendiri: bahwa anak asli Papua bisa duduk di ruang pengambilan keputusan, bukan sekadar menjadi objek program.