KSO A-W muncul sebagai aktor dominan sejak awal. Mekanisme tender tidak lagi berfungsi sebagai arena kompetisi, melainkan sebagai legitimasi administratif.

Dalam logika multiyears, ini sangat berbahaya karena:

  • satu tender menentukan proyek bertahun-tahun
  • satu keputusan mengunci alokasi anggaran besar
  • satu kesalahan berdampak panjang.

Hambalang memperlihatkan bahwa ketika tender tidak netral, maka seluruh siklus proyek ikut terdistorsi.

Evaluasi: Negara Menjadi Penonton

Salah satu temuan paling mencolok dari studi oleh Amin dan Ulung adalah bagaimana proses evalusi justru dilakukan oleh pihak yang berkepentingan. Panitia pengadaan hanya menandatangani dokumen.

Fungsi negara terbalik.

Pengawasan yang seharusnya menjadi kontrol berubah menjadi formalitas. Proses yang seharusnya independen justru dikuasi oleh calon pemenang.

Di titik inilah, negara tidak lagi mengendalikan proyek. Negara hanya mengesahkan.

Implementasi: Kontrak yang Tidak Bisa Dihentikan

Setelah kontrak berjalan, proyek terus bergerak meski masalah muncul, baik teknis maupun administratif. Inilah karakter utama multiyears: ia menciptakan efek penguncian (lock-in effect).

Kontrak bukan sekadar kesepakatan, tetapi juga tekanan:

  • menghentikan proyek berarti menanggung risiko hukum dan politik
  • melanjutkan proyek berarti mempertahankan kesalahan.

Hambalang memilih yang kedua.

Jejaring Kuasa di Balik Proyek

Kasus ini juga memperlihatkan bahwa korupsi bukan tindakan individual, melainkan kerja kolektif. Selain A M, terdapat peran penting:

  • W M sebagai penghubung
  • aktor korporasi sebagai pelaksana
  • jaringan politik sebagai penopang

Ini bukan sekadar pelanggaran prosedur, melainkan jaringan yang bekerja lintas sektor.

Dalam konteks multiyears, jaringan ini menjadi lebih kuat karena:

  • durasi panjang memberi waktu
  • nilai besar memberi insentif
  • kompleksitas memberi ruang

 

Multiyears dan Risiko Sistemik

Hambalang memperlihatkan paradoks utama multiyears. Di satu sisi:

  • meningkatkan efisiensi
  • menghindari pengulangan tender
  • mempercepat pembangunan

Di sisi lain:

  • mengunci kesalahan
  • mempersempit pengawasan
  • memperbesar risiko korupsi

Dalam konteks ini, multiyears bukan netral. Ia memperbesar konsekuensi, baik keberhasilan maupun kegagalan.

Dari Hambalang ke Hari Ini

Hambalang bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah peringatan struktural. Artinya ada yang keliru dalam cara sistem ini sendiri dirancang dan dijalankan. Ia menunjukkan bahwa ketika perencanaan bisa diintervensi, tender bisa dikondisikan, dan pengawasan melemah, maka korupsi bukan lagi penyimpangan, melainakn kemungkinan yang melekat dalam struktur.

Ketika proyek-proyek daerah hari ini: rumah sakit, jalan, fasilitas publik mulai menggunakan skema multiyears, pertanyaan yang sama kembali muncul:

  • Apakah perencanaannya benar-benar matang?
  • Apakah tendernya benar-benar kompetitif?
  • Apakah pengawasannya benar-benar independen?

Jika jawabannya tidak bisa dipertanggungjawabkan, maka risiko yang sama sedang diulang.

Multiyears, Terbuka untuk Dikoreksi Publik

Hambalang seharusnya menjadi pelajaran mahal. Bukan sekadar karena kerugian negara yang besar, atau karena nama-nama besar yang terseret ke pengadilan, tetapi karena ia memperlihatkan dengan terang bagaimana sebuah kebijakan bisa dibajak sejak awal.

Dalam proyek seperti ini, yang dipertaruhkan bukan hanya uang negara, melainkan cara negara bekerja. Ketika perencanaan sudah diarahkan, tender hanya formalitas, evaluasi kehilangan independensi, dan pelaksanaan berjalan tanpa koreksi, maka yang runtuh bukan hanya satu proyek, melainkan kepercayaan pada sistem itu sendiri.

Kita bisa saja menyebut Hambalang sebagai penyimpangan. Namun lebih jujur jika dikatakan: ini adalah konsekuensi dari desain yang membuka ruang bagi penyimpangan itu terjadi. Sebab dalam skema proyek jangka panjang/tahun jamak, setiap keputusan awal tidak berhenti sebagai keputusan, ia menjelma menjadi komitmen yang mengikat, yang sulit ditarik kembali bahkan ketika tanda-tanda masalah sudah terlihat.

Di titik ini, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi siapa yang bersalah, melainkan bagaimana mencegah agar pola yang sama tidak terulang. Karena tanpa perbaikan pada cara merancang, melelang, dan mengawasi proyek publik, maka setiap proyek besar berikutnya berisiko berjalan di rel yang sama: rapi di atas kertas, tetapi rapuh dalam praktik.

Hambalang memberi satu pelajaran sederhana: negara tidak cukup hanya membangun proyek. Negara harus memastikan bahwa setiap keputusan yang melahirkannya tetap terbuka untuk dikoreksi oleh publik. (*)