Gelombang itu melahirkan kepanikan. Dalam kondisi panik, muncul macam-macam teriakan “hantu”. Rakyat akan meneriaki pemerintah “hantu”. Oknum-oknum pemerintah meneriaki masyarakat “hantu”. TNI-Polri akan meneriaki TPNPB-OPM “hantu” dan sebaliknya TPNPB-OPM meneriaki TNI-Polri “hantu”.

Menurutnya, akibat dari semua itu, masyarakat merasakan hal yang sesungguhnya tidak enak.

Dikatakan, menjelang HUT ke-81 RI, pemerintah pusat dan daerah menginstruksikan semua masyarakat mengibarkan bendera Merah Putih. Namun, ada oknum kelompok tertentu yang menolak dengan mengatakan jangan mengibarkan.

Orang Papua dalam setiap demo menyanyikan lagu Bintang Kejora. Situasi ini membuat semua pihak merasa terganggu dan tidak nyaman.

Berdasarkan bacaan Injil, menjelang peringatan HUT ke-81 RI, RD. Amandus menegaskan bahwa dalam alam kemerdekaan yang usianya sudah 81 tahun, negara ini harus memiliki pesan positive thinking terhadap saudara sendiri dan menghindari cap negatif yang asal bunyi.

“Sadarlah, dalam kondisi panik orang baik disebut jahat. Sadarlah, dalam kondisi kacau penyelamat disebut pengacau. Dalam kondisi frustrasi penolong disebut perampok. Dalam kondisi marah OAP disebut separatis. Dalam kondisi kecewa Oyame disebut penjajah,” tegasnya.

Ia juga menegaskan, sebagai warga negara yang disebut merdeka, terkadang kemerdekaan itu salah digunakan sehingga orang bebas berbicara, termasuk berbicara ngawur. Orang akan bebas berbuat apa saja, termasuk melakukan kekacauan. Orang akan bebas bertindak, termasuk bertindak brutal.

Atas situasi ini, akibatnya orang hanya dinilai dari asal-usulnya.

Bagi RD. Amandus, penilaian tersebut sangat disayangkan. Baik buruknya seseorang hanya dinilai dari asal-usul etnisnya.

Kaitan dengan itu, kata RD. Amandus, Yesus sudah lebih dahulu menjadi korban cap asal bunyi yang diberikan para murid dalam situasi panik. Atas dasar itu, RD. Amandus mengingatkan kepada Oyame dan OAP agar jangan lagi jatuh atau mengulangi kesalahan yang sama.

Kepada umat Katolik, RD. Amandus mengingatkan supaya memiliki sikap tenang seperti sikap Yesus dalam menghadapi situasi kekacauan.

Oyame dan OAP diminta memiliki sikap saling menyapa. Begitupun TNI-Polri dan masyarakat sipil hendaknya saling menyapa.

Karena, kata RD. Amandus, teriakan “hantu” tidak dibalas oleh Yesus. Jika membalas “hantu”, akan menimbulkan masalah baru dari semua pihak.

Jamal Wuran: Inkulturasi Mempertemukan Iman dan Identitas

Sementara Jamal Wuran selaku Ketua Pemuda Flobamora yang juga ikut ambil bagian dalam Misa Inkulturasi, secara pribadi menyampaikan pandangannya sebagai pemuda Flobamora.

“Bagi saya, Misa Inkulturasi hari ini bukan sekadar merayakan misa dengan pakaian adat dan tarian. Ini adalah momen di mana iman saya bertemu dengan identitas saya. Ketika gendang dan gong berbunyi, doa dilafalkan dalam bahasa daerah, dan tarian adat dipersembahkan kepada Tuhan, saya merasa: Tuhan tidak hanya mengenal bahasa Latin atau Indonesia. Dia juga mengenal bahasa ibu saya, irama tanah kelahiran saya, dan jiwa budaya yang melekat pada diri saya sejak lahir,” tulis Jamal dalam wall WhatsApp Grup Pemuda Flobamora usai misa.

“Inkulturasi membuat Injil terasa dekat, terasa milik saya. Saya tidak perlu meninggalkan siapa saya untuk menjadi seorang yang beriman. Sebaliknya, saya justru membawa seluruh diri saya — Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu, Lembata, Adonara — ke dalam rumah Tuhan, sebagai persembahan yang utuh,” tambahnya.

Jamal merasa hal yang paling menyentuh hati adalah ketika semua berdiri bersama. Berbeda pulau, berbeda dialek, berbeda adat, tetapi dalam satu perayaan Ekaristi, semua menjadi satu persekutuan.

“Inilah wajah Flobamora yang sesungguhnya. Perbedaan bukan jurang, melainkan warna yang sama-sama memancarkan kemuliaan Allah,” tulisnya.

“Di tanah rantau Papua ini, kita bukan sekadar kumpulan orang NTT, kita adalah saksi bahwa dalam Kristus, keragaman menciptakan harmoni,” tulisnya.

Gabriel Zezo: Flobamora sebagai Miniatur NKRI

Sementara Gabriel Zezo, Ketua Ikatan Kerukunan Flobamora (IKF) Mimika, mengajak seluruh pengurus dan anggota Flobamora Mimika untuk patut bersyukur.

Menurutnya, Misa Inkulturasi tersebut merupakan tonggak penting bagi perjalanan orang Flobamora sebagai komunitas perantau di tanah Papua.

Menurut Gabriel, pertama, inkulturasi merupakan pengakuan bahwa iman dan budaya bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling memperkaya. Budaya adalah rumah tempat iman tumbuh dan dihayati.

“Melalui misa ini, kita menyatakan bahwa nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur seperti gotong royong, hormat kepada sesama, keramahan, kesetiakawanan semuanya selaras dengan ajaran Kristus dan menjadi cara kita mewujudkan Injil dalam kehidupan sehari-hari,” tulisnya.

Kedua, perayaan ini memperkuat jati diri Flobamora sebagai miniatur NKRI yang hidup. Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu, Lembata dan Adonara, masing-masing dengan kekhasannya.

Perayaan Misa Inkulturasi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan iman, budaya dan keberagaman masyarakat Flobamora sekaligus membawa pesan kuat tentang pentingnya toleransi, persaudaraan dan persatuan di tanah rantau Papua. **