Misa Inkulturasi Flobamora di Gereja Katedral Tiga Raja Timika Membawa Pesan Kuat Toleransi, RD. Amandus : Dalam Situasi Panik Yesus Disebut ‘Hantu’
Timika,papuaglobalnews.com – Masyarakat Flores, Sumba, Alor, Timor, Rote dan Lembata (Flobamora) Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kabupaten Mimika baru saja merayakan Misa Inkulturasi di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Minggu, 9 Agustus 2026.
Misa kedua yang dimulai pukul 09.00 WIT dipimpin oleh RD. Amandus Rahadat, Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika.
Dalam perayaan Misa Inkulturasi yang bernuansa kebudayaan atau etnis daerah tersebut, masyarakat Flobamora mengenakan pakaian khas adatnya masing-masing sebagai simbol dan identitas jati diri.
Anggota koor yang juga merupakan masyarakat Flobamora menampilkan lagu-lagu daerah dari Ende Lio, Bajawa dan Lembata. Alunan lagu-lagu daerah yang menggema di dalam gereja di tengah keheningan membangkitkan rasa dan ingatan akan kampung halaman, seolah begitu dekat di hati.
Momen penuh makna tersebut banyak diabadikan umat melalui telepon seluler untuk dijadikan pesan atau story di WhatsApp maupun dinding akun Facebook.
Lebih dari itu, Misa Inkulturasi tersebut memuat pesan kuat tentang nilai-nilai toleransi masyarakat Flobamora yang kental. Hal itu terlihat dari keikutsertaan Jamal Wuran bersama istri dan pasangan suami istri dari keluarga Muslim lainnya dalam pengantaran persembahan.
Jamal bersama istri berada di urutan kedua barisan, diikuti saudara Muslim lainnya yang mengenakan pakaian keagamaan. Dengan khusyuk, mereka maju menuju altar Tuhan untuk mengantarkan persembahan sebagai ungkapan syukur atas berkat dan karya.
Keterlibatan Jamal Wuran bersama istri dan keluarga Muslim lainnya bukan baru pertama kali. Namun, sudah berulang kali dilakukan dalam setiap momen besar keagamaan. Sebut saja pada momen serupa dua tahun lalu, perayaan misa pentahbisan episkopal Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, pada 14 Mei 2025 dan pada misa masyarakat Flobamora dengan Uskup Larantuka, Mgr. Kopong Kung, Pr sebelum hari pentahbisan episcopal Uskup Bernardus.
Tampilnya wajah Muslim Flobamora dalam momen penuh makna tersebut selain menunjukkan betapa kuatnya toleransi yang digenggam dan dijaga masyarakat Flobamora, baik di kampung halaman maupun di tanah rantau, mendapat apresiasi tulus dari hati paling dalam RD. Amandus Rahadat yang disampaikan dari atas podium.
Pesan Khotbah: “Tenanglah, Jangan Takut, Aku Ini”
RD. Amandus dalam pesan firman Tuhan mengangkat topik “Tenanglah, Jangan Takut, Aku Ini”.
Ia mengawali khotbahnya dengan mengungkapkan bahwa biasanya dalam situasi instabilitas fisik maupun mental, kehadiran orang lain akan dilihat sebagai ancaman atau sesuatu yang mengganggu.
Penegasan itu disampaikan RD. Amandus untuk menggambarkan situasi para murid sesuai bacaan Injil.
RD. Amandus mengajak umat membayangkan sekitar pukul 03.00 subuh sudah berada jauh dari pinggir pantai, di tengah laut. Laut mulai bergelora dan perahu dihantam gelombang. Kemudian, para murid melihat sosok yang berjalan di atas air menuju perahu yang mereka tumpangi.
Semua panik dan berteriak, “Hantu!”
Melihat situasi para murid-Nya yang panik, kata RD. Amandus, sikap Yesus justru tampak tenang dengan membuka tangan sambil berkata, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut.”
Kehadiran Yesus memberikan ketenangan bagi para murid. Itu artinya, ketenangan menjadi tanda kehadiran Tuhan.
RD. Amandus kemudian mengisahkan pengalaman Nabi Elia di Gunung Horeb. Saat angin besar dan kuat lewat, Tuhan tidak ada. Saat gempa mengguncang, Tuhan tidak hadir. Saat api sedang membara, Tuhan tidak hadir. Tetapi di dalam angin sepoi-sepoi basah, Allah justru hadir. (Kisah Raja-Raja 19:9-12).
Menurut RD. Amandus, keributan dan kekacauan merupakan tanda Tuhan tidak ada. Hal tersebut mengindikasikan kehadiran “hantu” yang merusak kedamaian hidup serta membawa ketakutan.
RD. Amandus juga menegaskan bahwa bacaan Injil tersebut dapat diterjemahkan dalam konteks kehidupan bermasyarakat di tanah Papua, yang menurutnya akan banyak menjumpai teriakan “hantu”.
Adapun fakta pertama teriakan “hantu”, yakni ketika masyarakat Orang Asli Papua (OAP) merasa tersingkir dalam pelbagai bidang. Di situ muncul aneka perasaan, misalnya merasa terancam dalam ketertinggalan, merasa dirampas hak ulayatnya, merasa tungku apinya direbut, serta merasa aspirasinya tidak ditanggapi atau didiamkan oleh pemerintah.
Maka, orang pendatang akan dilihat sebagai ancaman dengan pelbagai stigma, seperti “Oyame”, pencuri, penjajah dan pembohong.
“Ini menunjukkan kondisi ‘hantu’ yang kita temui di tanah ini,” kata RD. Amandus.
Fakta kedua, kata RD. Amandus, dalam situasi orang pendatang yang disebut “Oyame” merasa terancam bahwa kelak akan diusir dari tanah ini. Sehingga dalam bekerja, bermisi dan berbisnis selalu merasa tidak nyaman serta was-was.
Hidup dalam situasi tersebut membuat orang pendatang melihat OAP sebagai ancaman, dengan pelbagai stigma di antaranya pengacau, separatis, pemberontak dan tukang bikin onar. Ini semua merupakan model kondisi “hantu” yang dialami saat ini.
Fakta ketiga, dalam kondisi tarik-ulur antara Otsus diteruskan atau tidak. Di satu sisi, pemerintah melalui oknum-oknum tertentu yang mempunyai wewenang selalu menyatakan Otsus harus diteruskan. Namun, di sisi lain, cukup banyak OAP meminta Otsus harus dihentikan dengan meminta dialog.
Menghadapi situasi itu, kata RD. Amandus, perlu diketahui bahwa perahu tanah ini berada dalam suasana laut politik yang sedang bergelora dan dihantam gelombang. Semua pihak memiliki opsi yang saling bertabrakan, sama seperti gelombang di laut.
Gelombang itu melahirkan kepanikan. Dalam kondisi panik, muncul macam-macam teriakan “hantu”. Rakyat akan meneriaki pemerintah “hantu”. Oknum-oknum pemerintah meneriaki masyarakat “hantu”. TNI-Polri akan meneriaki TPNPB-OPM “hantu” dan sebaliknya TPNPB-OPM meneriaki TNI-Polri “hantu”.
Menurutnya, akibat dari semua itu, masyarakat merasakan hal yang sesungguhnya tidak enak.
Dikatakan, menjelang HUT ke-81 RI, pemerintah pusat dan daerah menginstruksikan semua masyarakat mengibarkan bendera Merah Putih. Namun, ada oknum kelompok tertentu yang menolak dengan mengatakan jangan mengibarkan.
Orang Papua dalam setiap demo menyanyikan lagu Bintang Kejora. Situasi ini membuat semua pihak merasa terganggu dan tidak nyaman.
Berdasarkan bacaan Injil, menjelang peringatan HUT ke-81 RI, RD. Amandus menegaskan bahwa dalam alam kemerdekaan yang usianya sudah 81 tahun, negara ini harus memiliki pesan positive thinking terhadap saudara sendiri dan menghindari cap negatif yang asal bunyi.
“Sadarlah, dalam kondisi panik orang baik disebut jahat. Sadarlah, dalam kondisi kacau penyelamat disebut pengacau. Dalam kondisi frustrasi penolong disebut perampok. Dalam kondisi marah OAP disebut separatis. Dalam kondisi kecewa Oyame disebut penjajah,” tegasnya.
Ia juga menegaskan, sebagai warga negara yang disebut merdeka, terkadang kemerdekaan itu salah digunakan sehingga orang bebas berbicara, termasuk berbicara ngawur. Orang akan bebas berbuat apa saja, termasuk melakukan kekacauan. Orang akan bebas bertindak, termasuk bertindak brutal.
Atas situasi ini, akibatnya orang hanya dinilai dari asal-usulnya.
Bagi RD. Amandus, penilaian tersebut sangat disayangkan. Baik buruknya seseorang hanya dinilai dari asal-usul etnisnya.
Kaitan dengan itu, kata RD. Amandus, Yesus sudah lebih dahulu menjadi korban cap asal bunyi yang diberikan para murid dalam situasi panik. Atas dasar itu, RD. Amandus mengingatkan kepada Oyame dan OAP agar jangan lagi jatuh atau mengulangi kesalahan yang sama.
Kepada umat Katolik, RD. Amandus mengingatkan supaya memiliki sikap tenang seperti sikap Yesus dalam menghadapi situasi kekacauan.
Oyame dan OAP diminta memiliki sikap saling menyapa. Begitupun TNI-Polri dan masyarakat sipil hendaknya saling menyapa.
Karena, kata RD. Amandus, teriakan “hantu” tidak dibalas oleh Yesus. Jika membalas “hantu”, akan menimbulkan masalah baru dari semua pihak.
Jamal Wuran: Inkulturasi Mempertemukan Iman dan Identitas
Sementara Jamal Wuran selaku Ketua Pemuda Flobamora yang juga ikut ambil bagian dalam Misa Inkulturasi, secara pribadi menyampaikan pandangannya sebagai pemuda Flobamora.
“Bagi saya, Misa Inkulturasi hari ini bukan sekadar merayakan misa dengan pakaian adat dan tarian. Ini adalah momen di mana iman saya bertemu dengan identitas saya. Ketika gendang dan gong berbunyi, doa dilafalkan dalam bahasa daerah, dan tarian adat dipersembahkan kepada Tuhan, saya merasa: Tuhan tidak hanya mengenal bahasa Latin atau Indonesia. Dia juga mengenal bahasa ibu saya, irama tanah kelahiran saya, dan jiwa budaya yang melekat pada diri saya sejak lahir,” tulis Jamal dalam wall WhatsApp Grup Pemuda Flobamora usai misa.
“Inkulturasi membuat Injil terasa dekat, terasa milik saya. Saya tidak perlu meninggalkan siapa saya untuk menjadi seorang yang beriman. Sebaliknya, saya justru membawa seluruh diri saya — Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu, Lembata, Adonara — ke dalam rumah Tuhan, sebagai persembahan yang utuh,” tambahnya.
Jamal merasa hal yang paling menyentuh hati adalah ketika semua berdiri bersama. Berbeda pulau, berbeda dialek, berbeda adat, tetapi dalam satu perayaan Ekaristi, semua menjadi satu persekutuan.
“Inilah wajah Flobamora yang sesungguhnya. Perbedaan bukan jurang, melainkan warna yang sama-sama memancarkan kemuliaan Allah,” tulisnya.
“Di tanah rantau Papua ini, kita bukan sekadar kumpulan orang NTT, kita adalah saksi bahwa dalam Kristus, keragaman menciptakan harmoni,” tulisnya.
Gabriel Zezo: Flobamora sebagai Miniatur NKRI
Sementara Gabriel Zezo, Ketua Ikatan Kerukunan Flobamora (IKF) Mimika, mengajak seluruh pengurus dan anggota Flobamora Mimika untuk patut bersyukur.
Menurutnya, Misa Inkulturasi tersebut merupakan tonggak penting bagi perjalanan orang Flobamora sebagai komunitas perantau di tanah Papua.
Menurut Gabriel, pertama, inkulturasi merupakan pengakuan bahwa iman dan budaya bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling memperkaya. Budaya adalah rumah tempat iman tumbuh dan dihayati.
“Melalui misa ini, kita menyatakan bahwa nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur seperti gotong royong, hormat kepada sesama, keramahan, kesetiakawanan semuanya selaras dengan ajaran Kristus dan menjadi cara kita mewujudkan Injil dalam kehidupan sehari-hari,” tulisnya.
Kedua, perayaan ini memperkuat jati diri Flobamora sebagai miniatur NKRI yang hidup. Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu, Lembata dan Adonara, masing-masing dengan kekhasannya.
Perayaan Misa Inkulturasi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan iman, budaya dan keberagaman masyarakat Flobamora sekaligus membawa pesan kuat tentang pentingnya toleransi, persaudaraan dan persatuan di tanah rantau Papua. **



