Mendagri Jawab Surat Bupati Mimika Terkait Tapal Batas di Kapiraya
Luky menganjurkan kepada pemerintah dan TNI-Polri selama situasi pasca konflik ditengah kekosongan Pos TNI dan Polri perlu memberikan perhatian dan membangun pendekatan sosial kepada masyarakat agar kembali lahir kepercayaan terhadap hadirnya pemerintah dalah hal memberi rasa aman. Karena sebentar lagi masyarakat Nasrani akan memasuki Natal.
Selain itu, Luky mendorong TNI-Polri untuk lebih tegas mengawasi beredarnya informasi hoax di media sosial yang dapat memperkeruh suasana di Kapiraya.
Paul Weti, Anggota FKUB Mimika menyampaikan Mimika merupakan daerah yang ‘seksi’. Karena ‘seksi’ mendorong semua orang berbondong-bondong datrang mencari hidup di sini.
Menurutnya, masalah tapal batas di Kapiraya harus secepatnya diselesaikan oleh pemerintah.
“Kalau tidak, orang akan saling baku bunuh dan mati sia-sia. Harus ditangani serius karena masalah sudah lama tapi terkesan seolah-olah dibiarkan,” kritiknya.
“Menjadi masalah sekarang, kita mau kerja keras tapi Lemasko dan Lemasa mempunyai beberapa versi. Kita harus bersatu agar setiap ada persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Bagaimana kita mau bersatu kalau kedua lembaga ini pecah-pecah,” kritik Paul.
Sementara Yohanis Magai, Kepala Suku Damal mengungkapkan gara-gara tapal batas sesama masyarakat Papua saling membunuh.
Ia mendorong, pemerintah sebagai fasilitator secepatnya membentuk tim supaya segera selesaikan jangan hanya sebatas berbicara lepas tanpa ada eksekusi di lapangan.
“Terkait hak-hak tapal batas, ini terjadi karena lemahnya pemerintah dalam pengawasan. Lemasa dan Lemasko harus mempunyai peran. Dimana tugas dan tanggung jawab Lemasa dan Lemasko?” tanya Magai.
Sementara Sem Wandagau, Ketua Lemasa mengharapkan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan tapal batas harus melibatkan lembaga adat. Keterlibatan lembaga adat untuk membantu pemerintah dalam komunikasi menggunakan bahasa lokal dengan pihak Suku Mee untuk mencapai suatu kesepakatan. Setelah semuanya menerima dengan kepala dingin hati yang damai baru dilakukan kesepakatan. **



































