Masyarakat Kuala Kencana Dibekali Kesadaran Keluarga untuk Meningkatkan Pendidikan dan Keterampilan SDM Berkualitas
“Kekerasan dalam rumah tangga meliputi kekerasan seksual, kekerasan ekonomi, penelantaran, dan kekerasan mental. Hal-hal inilah yang harus dicegah agar keluarga tetap aman dan harmonis,” katanya.
Yosua juga mengajak masyarakat mempersiapkan remaja menjadi keluarga yang berkualitas melalui perencanaan pernikahan yang matang.
Ia menjelaskan bahwa meskipun undang-undang memperbolehkan usia minimal menikah 19 tahun, pemerintah melalui program pembangunan keluarga menganjurkan usia ideal menikah adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Usia tersebut memberi kesempatan bagi remaja menyelesaikan pendidikan, memiliki pekerjaan, dan mempersiapkan kondisi kesehatan sebelum berkeluarga.
Ia juga menyoroti pentingnya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi sejak remaja. Remaja putri diharapkan rutin mengonsumsi tablet tambah darah agar terhindar dari anemia dan kekurangan energi kronis ketika memasuki masa kehamilan.
Selain itu, calon pengantin diharapkan mendapatkan pendampingan dari Tim Pendamping Keluarga (TPK), termasuk edukasi mengenai kesehatan reproduksi, gizi, serta persiapan menjadi orang tua.
Yosua menegaskan pendidikan nonformal di lingkungan keluarga juga sangat penting. Sepadat apa pun aktivitas orang tua dalam bekerja, mereka tetap harus menyediakan waktu untuk mendampingi anak agar mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan afeksi yang seimbang.
Ia juga mengingatkan bahwa seluruh anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa membedakan jenis kelamin.
“Hari ini jangan berpikir bahwa karena anak perempuan maka tidak perlu sekolah tinggi. Semua anak Indonesia memiliki hak yang sama memperoleh pendidikan yang layak, kasih sayang, serta kesempatan meraih pekerjaan yang baik demi masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah saat ini fokus membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing sehingga keluarga memiliki peran sangat penting dalam mendukung pendidikan anak.
Ia juga mengingatkan pentingnya perencanaan sebelum memiliki anak, mulai dari kesiapan ekonomi, pemenuhan nutrisi, keselamatan ibu dan bayi, hingga biaya pendidikan anak.
Yosua menyesalkan masih adanya anak-anak yang seharusnya belajar namun justru bekerja di jalanan.
“Pada usia anak, fokus mereka adalah belajar, bukan bekerja. Orang tua harus memastikan hak-hak anak terpenuhi sebagai bentuk investasi masa depan generasi,” pungkasnya. **
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.




















