Marianus Maknaepeku Dorong Anggota DPRP Papua Tengah Buat Perdasi dan Perdasus untuk Lindungi Nelayan Lokal
Menurutnya dengan adanya Perdasi dan Perdasus, apabila ada nelayan atau perusahaan perikanan dari luar yang ingin beroperasi di suatu wilayah perairan, mereka harus memperoleh izin dari masyarakat adat setempat, terutama kepala suku. Selain itu, perusahaan juga harus memberikan kontribusi bagi kampung setempat dan aktivitas penangkapan ikan mendapat pengawalan oleh masyarakat adat.
Selain itu, Marianus juga berharap Dinas Perikanan Kabupaten Mimika memberikan perhatian serius terhadap kondisi Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Pomako.
Menurutnya, kondisi PPI Pomako saat ini tidak baik-baik saja karena diduga masih terjadi praktik illegal fishing oleh nelayan bermodal besar. Aktivitas bongkar muat hasil tangkapan ikan dari perairan Mimika, katanya, banyak dilakukan langsung di atas kapal, bukan di PPI. Setelah proses bongkar muat selesai, kapal-kapal tersebut langsung berlayar menuju Pulau Jawa membawa hasil laut Mimika untuk dipasarkan, sehingga daerah kehilangan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi bongkar muat.
“Karena selama ini bongkar muat dilakukan di laut. Setiap kapal berlabuh di laut, petugas pelabuhan dan pihak-pihak terkait langsung menyeberang menggunakan jonson menuju kapal ikan. Setelah bongkar muat selesai, aktivitas di PPI tidak ada lagi. Ini namanya illegal fishing,” jelasnya.
Menurut Marianus, praktik tersebut harus menjadi perhatian serius DPRK Mimika dan Pemerintah Kabupaten Mimika agar ada pemasukan bagi daerah.
Ia mengkhawatirkan, jika kondisi itu terus dibiarkan, Mimika akan terus kehilangan potensi pendapatan dari sektor perikanan.
Marianus mengaku mengetahui secara langsung kondisi tersebut karena selama ini tinggal di wilayah itu.
Ia menilai peluncuran ekspor 42 ton ikan bawal hitam di PPI oleh Gubernur Meki Fritz Nawipa mungkin hanya merupakan suatu kebetulan di tengah praktik yang selama ini berlangsung tanpa pengawasan yang ketat dari pemerintah. Akibatnya, Mimika kehilangan potensi pendapatan dari kekayaan lautnya yang justru lebih banyak dinikmati oleh pihak luar.
Ia berharap Mimika tidak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan laut yang melimpah, tetapi manfaat ekonomi dari kekayaan tersebut benar-benar dapat dinikmati oleh masyarakat setempat, bukan hanya menyisakan nama besar sementara hasilnya dinikmati oleh orang luar. **
















