“Sudah sepuluh orang ditambah satu anak perempuan ODGJ, total 11 nyawa melayang. Orang-orang di luar sana menertawakan kita,” tegas Nenu.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat Puncak, termasuk dari wilayah Sinak, Beoga, Dani, dan Damal, untuk bertobat dan menghentikan kekerasan.

“Kita sudah melawan Tuhan. Natal dan Tahun Baru sudah kita lewati, hari-hari besar sudah lewat, tapi kita masih berperang,” ujarnya dengan nada prihatin.

Nenu berharap Jeri Murib menjadi korban terakhir dalam konflik ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentolerir konflik lanjutan.

“Kita sudah hadir dan membakar jenazah ini. Kalau mulai besok masih terjadi konflik, maka tindakannya sudah lain ceritanya. Aparat akan memproses secara hukum,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar mulai keesokan hari pemerintah bersama aparat keamanan segera membahas tahapan perdamaian yang komprehensif meskipun tidak mudah.

Menutup pernyataannya, Nenu Tabuni menyampaikan terima kasih kepada aparat keamanan, Pemerintah Kabupaten Mimika, serta anggota MRP Papua Tengah yang telah mendukung proses kremasi jenazah demi meredam konflik.

Ia pun berdoa agar Tuhan memberkati setiap niat baik dan upaya perdamaian sehingga situasi keamanan di Kwamki Narama dapat kembali kondusif. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.