Haris meyakini ke depan petani mampu mencetak sawah semakin luas sehingga berdampak terhadap peningkatan hasil panen. Dengan harga pasaran yang dinilai cukup baik, kondisi tersebut diharapkan dapat membawa kehidupan petani semakin sejahtera.

Sementara itu, Sutejo selaku Ketua Kelompok Tani Makaro Tani SP5 mengemukakan, varietas padi gogo selama ini hanya ditanam di kebun tadah hujan. Namun, dirinya bersama anggota kelompok tani lainnya mencoba menanamnya dengan sistem persawahan dan ternyata mampu memberikan hasil yang sangat baik. Dari dua bibit padi yang ditanam muncul tunas tambahan hingga lima atau enam.

Ia menyebutkan berdasarkan pengalaman hasil panen satu hektar pertama sebelumnya dari 20 kilogram bibit yang ditanam mampu menghasilkan dua ton gabah dan setelah digiling mendapat 600 Kg beras.

Ia mengungkapkan, padi yang dipanen tersebut merupakan hasil panen perdana. Lahan seluas lima hektar dikerjakan oleh lima orang petani dengan masing-masing mengolah lahan seluas satu hektar.

Sutejo juga mengaku ke depan akan kembali membuka tambahan lahan seluas enam hektar di kawasan yang sama.

“Ini lahan milik petani sendiri yang sudah ada sertipikatnya,” kata Sutejo.

Ia mengakui, lahan seluas lima hektar tersebut membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk dipanen secara manual. Hal itu karena mesin Combine Harvester masih dalam kondisi perawatan setelah terlalu lama tidak digunakan.

Selain masih dalam perawatan, kata Sutejo, mesin tersebut meskipun sudah tersedia belum bisa digunakan untuk memanen padi karena kondisi tanah masih basah atau belum padat. Hal itu dikhawatirkan membuat mesin dapat tertanam di dalam tanah.

Sutejo mengatakan, untuk sementara hasil panen selain memenuhi kebutuhan petani sendiri juga dijual kepada masyarakat sekitar SP5 dengan harga Rp20 ribu per kilogram.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada DTPHP Mimika yang selama ini memperhatikan kebutuhan petani dengan menyalurkan pupuk dan berbagai fasilitas pertanian lainnya.

“Bantuan yang ada sangat dirasakan manfaatnya oleh kami petani dari sisi pembiayaan. Adanya bantuan ini membuat kami petani semakin semangat menanam,” ujar Sutejo.

Di tempat yang sama, Bernard D. Ansaka, Kepala Bidang Penyuluhan dan Prasarana Sarana Pertanian, menambahkan untuk mendukung petani, dinas akan terus memberikan perhatian, termasuk dalam pemberian peralatan pertanian.

Ia menyebutkan, ke depan perluasan lahan sawah dapat ditambahkan hingga mencapai 20 hektar. Pemerintah juga akan memberikan peralatan untuk pengolahan lahan, panen dan pengupasan hasil pertanian.

“Peralatannya sudah dikasih semua kepada petani tinggal digunakan saja,” kata Bernard.

Sementara itu, Kabid Pangan Anwar mengemukakan pengembangan dan penguatan potensi sawah tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan lokal berkualitas yang dicanangkan Pemerintah Pusat, sehingga masyarakat tidak bergantung pada pendistribusian pangan dari daerah lain.

Ia menambahkan, program perluasan lahan tersebut selain menyasar padi sawah juga diarahkan untuk pengembangan tanaman pangan seperti jagung, keladi dan petatas dalam gerakan keragaman pangan lokal.

Ia berharap ke depan petani di Timika mampu mewujudkan swasembada pangan guna memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Mimika. **