Kendalikan Malaria, DPMK Bersama Dinkes dan UNICEF Bentuk Kampung Tangguh Malaria di Mimika
Ia menambahkan, draf Surat Keputusan Kepala Kampung tentang pembentukan Pos Kampung Tangguh Malaria telah disiapkan. Kader malaria yang selama ini telah dilatih di setiap kampung juga akan menjadi bagian dari tim Kampung Tangguh Malaria.
“Output dari pendataan malaria adalah jumlah warga yang diperiksa dan yang positif malaria. Selama ini setiap kader Perdhaki rata-rata melakukan 80 pemeriksaan per bulan. Dengan adanya Pos Kampung Tangguh Malaria diharapkan bertambah sekitar 70 pemeriksaan sehingga menjadi 150 pemeriksaan per kader setiap bulan,” tambahnya.
Selain itu, melalui alokasi Dana Kampung Tahun 2026, kegiatan pendataan dan sosialisasi dapat dilakukan secara door to door, termasuk pemantauan kepatuhan minum obat bagi penderita malaria, serta sensus kepemilikan dan penggunaan kelambu di setiap kampung.
“Dinas Kesehatan juga telah menjelaskan pentingnya pengendalian vektor. Karena itu, sosialisasi mengenai vektor malaria dan pendataan habitat atau tempat berkembang biaknya jentik nyamuk juga menjadi kewajiban petugas Kampung Tangguh Malaria,” tutup Bakri.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Mimika, Kamaludin, mengatakan pertemuan yang dihadiri Dinkes, DPMK, perwakilan kepala kampung, tenaga ahli Kabupaten dari Kemendesa PDT, Ketua IDI Mimika dr. Enny, Perdhaki, dan UNICEF menghasilkan sejumlah kesepakatan penting dalam pengendalian malaria di tingkat kampung.
“Beberapa poin yang disepakati antara lain pembentukan Kampung Tangguh Malaria di setiap kampung wilayah perkotaan sebagai tahap awal, kepala kampung segera menerbitkan SK Tim Kampung Tangguh Malaria, pendampingan penyusunan RAB intervensi malaria oleh tenaga pendamping, serta pelaksanaan intervensi tahun 2026 berupa pendataan, sosialisasi, dan pembersihan genangan air atau lingkungan,” ujar Kamaludin.
Untuk tahun 2027, intervensi Kampung Tangguh Malaria direncanakan lebih luas, meliputi peningkatan pemeriksaan malaria bagi seluruh warga, pemantauan kepatuhan minum obat secara menyeluruh, pengendalian jentik nyamuk melalui larvasida, sensus dan pemantauan penggunaan kelambu, penyediaan media edukasi mengenai bahaya dan pencegahan malaria, serta penyediaan lotion anti nyamuk yang ditempatkan di lokasi-lokasi keramaian pada malam hari seperti rumah ibadah, rumah duka, dan pos ronda. **













