Namun keberhasilan rehabilitasi sangat membutuhkan dukungan keluarga, terutama dalam mendampingi pasien selama menjalani pengobatan serta memastikan konsumsi obat secara teratur agar kondisi kejiwaannya dapat pulih.

Yulita juga menyampaikan terima kasih kepada Ema Nunang selaku pemilik Panti Asuhan Santa Susana dan Yosevitaliana Achmad selaku Ketua Yayasan Griya Satu Mimika Foundation yang telah bersedia menerima anak dan ibunya.

Ia mendoakan agar pelayanan kedua lembaga tersebut senantiasa diberkati Tuhan dengan kesehatan dan perlindungan, karena selama ini telah banyak membantu Dinsos dalam penanganan anak-anak maupun ODGJ.

Yulita mengungkapkan, pada Jumat malam, suami dari ibu tersebut yang bernama Lulu Kogoya datang ke Griya Satu Mimika Foundation untuk menemui istrinya.

Saat ditemui di yayasan tersebut, Lulu mengaku istrinya mengalami gangguan kejiwaan sejak dua tahun lalu setelah melahirkan anak mereka di RSUD Mimika. Menurutnya, kondisi itu bermula ketika istrinya mengalami penyakit yang disebutnya sebagai “darah putih naik”.

Lulu mengatakan dirinya dan istrinya memiliki empat orang anak. Anak kedua perempuan telah meninggal dunia. Sebelumnya mereka tinggal di Utikini SP12, namun kini sementara menetap di kawasan Gorong-gorong.

Lulu yang bekerja di LIP Kuala Kencana berencana mengambil cuti untuk mendampingi proses pengobatan istrinya. Sementara anak mereka akan tetap dititipkan di Panti Asuhan Santa Susana selama ibunya menjalani perawatan.

Pantauan papuaglobalnews.com di lokasi, ibu tersebut ditempatkan di ruang khusus yang dilengkapi pintu terali besi, tempat tidur, serta kamar mandi. Saat diajak berbicara, ia masih mampu merespons dengan baik meski belum sepenuhnya dalam kondisi normal.

Sementara itu, pemilik Panti Asuhan Santa Susana, Ema Nunang, mengatakan anak yang dititipkan di panti tersebut bernama Jhon Kogoya, berusia lebih dari dua tahun. Sedangkan ibu kandungnya dititipkan di Griya Satu Mimika Foundation oleh Tim Dinsos Mimika yang dipimpin Kabid Rehabilitasi Sosial, Yulita Kudiai.

Saat ini status anak masih dalam masa adaptasi.

Nunang menjelaskan, anak tersebut diantar ke panti tanpa dokumen identitas karena ibu kandungnya sedang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Meski demikian, pihak panti menerima anak tersebut dengan sukacita.

Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan anak. Apabila nantinya ada keluarga yang datang mengaku sebagai kerabat, pihak panti akan berkoordinasi dengan Dinsos Mimika selaku pihak yang mengantar anak tersebut.

Selain itu, keluarga yang mengaku memiliki hubungan kekerabatan wajib menunjukkan dokumen identitas anak untuk menghindari kemungkinan penipuan.

“Kondisi anak kecil malam ini, dia bermain bebas bersama anak-anak yang lain tanpa ada beban,” tulis Nunang pada Jumat malam 17 Juli 2026.

“Jika Tuhan yang mengarahkan anak ini ke panti asuhan, maka dengan iman yang penuh kami yakin bahwa anak akan baik-baik saja,” tutup Nunang. **