Dinkes Mimika Gelar CQI, Tujuh Tahun Malaria Vivax Tembus 50.017 Kasus, Pojok Malaria Efektif Tekan Malaria Berulang
Keempat, edukasi pemantauan warna urin selama konsumsi primakuin.
Kelima, melakukan deteksi kasus berulang.
Ia mengakui sesuai data menunjukkan bahwa minum obat langsung di Pojok Malaria mampu menurunkan rekurensi malaria vivax. Dimana risiko rekurensi tanpa primakuin di Pojok menurun 10,1%, risiko rekurensi dengan primakuin di Pojok 5,8% dan penurunan rekurensi mencapai 43%. Dengan demikian ia menyimpulkan sekitar 50-75% pasien tercatat minum DHP dan primakuin di Pojok Malaria.
Dr. Rini juga menyimpulkan bahwa beberapa poin penting hasil CQI antara lain:
Pojok Malaria masih aktif berjalan di 5 puskesmas.
Proporsi rekurensi Plasmodium vivax mengalami penurunan.
Minum obat di Pojok efektif menurunkan rekurensi P. vivax dan P. falciparum.
Rujukan ke kader untuk PMO masih berjalan meski ada hambatan.
Keberhasilan PMO oleh kader relatif stabil dan praktik komunikasi efektif belum konsisten diterapkan.
Selain itu, sistem pendukung seperti kartu malaria berbasis unique ID dan biometrik juga mulai diterapkan.
Sementara dr. Leoni dalam analisa data Pojok Malaria periode 2020-2023 menjelaskan temuan kunci Pojok Malaria diantaranya meningkatkan keterlibatan antara tenaga kesehatan dan pasien, Pojok Malaria sebagai paket lengkap, edukasi pentingnya minum obat sampai tuntas, minum DHP dan primakuin hari pertama, kemudian dirujuk ke kader untuk PMO.
Selain itu edukasi pemantauan warna urin selama satu minggu minum primakuin dan deteksi kasus berulang.
Ia menambahkan temuan kunci Pojok Malaria terjadi penurunan signifikan kejadian malaria berulang. Pasien malaria yang tidak ke Pojok 2,6x lebih mungkin kambuh malaria dalam 63 hari (17,5% versus 5,9%) pada fase awal (April-Agustus 2020).
Hal serupa pada fase konsolidasi (September 2020-Januari 2021)
Temuan Kunci Pojok Malaria
Pada Agustus-Desember 2023 sudah tidak berbeda signifikan.
Peningkatan praktik manajemen pasien (peresepan sesuai pedoman, kelengkapan data, dll) telah terintegrasi ke rutinitas layanan.
Peningkatan mutu dilakukan berkelanjutan, sehingga hasil yang baik dapat dipertahankan terbukti dengan angka kekambuhan secara keseluruhan menurun.
Faktor yang mempengaruhi efektivitas program. Pojok Malaria sebagai paket intervensi bukan komponen tunggal.
Ia menjelaskan supervisi dosis pertama penting dalam mendukung keberhasilan pengobatan, dengan edukasi sebagai komponen kunci penurunan kekambuhan pasien.
Faktor operasional dan akses (ketersediaan staf, jam layanan, dll) sangat mempengaruhi efektivitas Pojok Malaria.
Untuk bisa menilai keberhasilan program, pencatatan sangat penting (kelengkapan dan akurasi data didukung buku register Pojok).
Ia juga menyimpulkan bahwa keberadaan program Pojok Malaria merupakan pendekatan praktis yang sudah terbukti berkontribusi pada penurunan kekambuhan malaria.
Pojok Malaria berpotensi mendukung pengendalian malaria jangka panjang jika tantangan operasional dapat diatasi. **




























