Dinkes Mimika Gelar CQI, Tujuh Tahun Malaria Vivax Tembus 50.017 Kasus, Pojok Malaria Efektif Tekan Malaria Berulang
Timika,papuaglobalnews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Papua Tengah melaksanakan kegiatan Continuous Quality Improvement (CQI) atau Peningkatan Mutu Berkelanjutan di Hotel Grand Tembaga, Jumat April 2026.
Kegiatan ini difokuskan pada evaluasi penguatan program malaria di lima puskesmas serta implementasi terapi baru Primakuin dosis tinggi sebagai terapi radikal malaria vivax di empat puskesmas di Kabupaten Mimika.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, S.IP., MMKes dalam arahan mendorong pelayanan terapi radikal malaria vivax bisa menjangkau semua Puskesmas hingga pesisir dan gunung.
Ia mengaskan Dinkes selalu mendukung terhadap kegiatan dalam program upaya mengeliminasi malaria sesuai target tahun 20230 yang kini tinggal empat tahun dan berharap Mimika menjadi terdepan dalam pengendalian malaria di Indonesia.
“Malaria dilihat dari target kita tinggal empat tahun dalam program eliminasi. Dalam kerjasama dengan mitra lain, Mimika bisa keluar sebagai nomor urut 10 besar dari tingkat nasional sebagai daerah penyumbang 70 persen malaria,” katanya.
Ia mengajak semua pihak satukan langkah untuk maju bersama kedepan mendukung program yang akan dilaksanakan ini.
Sementara Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Linus Dimatubun dalam laporan menjelaskan, Kementerian Kesehatan Indonesia menetapkan target untuk mencapai Indonesia bebas malaria pada tahun 2030. Dalam rangka mendukung percepatan eliminasi malaria, berbagai kegiatan-kegiatan akselerasi telah disusun secara sistematis dalam Rencana Aksi Nasional. Fokus utama pelaksanaan kegiatan-kegiatan ini adalah daerah-daerah dengan Annual Parasite Incidence (API) lebih dari 100 per 1.000 populasi, dengan penekanan khusus pada 9 kabupaten/kota di Tanah Papua, salah satunya Kabupaten Mimika.
Ia menjelaskan, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, bersama dengan Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPMKP), tengah melaksanakan dua kegiatan inovatif yang merupakan bagian dari Rencana Aksi Nasional untuk Percepatan Eliminasi Malaria 2020-2026. Kedua kegiatan tersebut adalah Penguatan Program Malaria di 5 Puskesmas dan Terapi Baru Primakuin (TBP) untuk malaria vivax di 4 Puskesmas di Kabupaten Mimika.
Dalam pelaksanaannya, jelas Linus penting untuk dilakukan Continous Quality Improvement (CQI) sebagai sarana bagi fasilitas kesehatan untuk mengukur dan mengevaluasi keberhasilan program-program ini, guna memastikan dampak yang optimal dalam upaya eliminasi malaria.
Jenis Kegiatan
Evaluasi pencapaian pelaksanaan Penguatan Program Malaria di 5 Puskesmas dan Pengobatan Primakuin Dosis Tinggi untuk Terapi Radikal Malaria Vivax di 4 Puskesmas di Kabupaten Mimika.
Dilaksanakan kegiatan ini dengan tujuan diantaranya;
- Mengevaluasi implementasi penguatan program malaria di 5 Puskesmas untuk memastikan keberhasilan upaya pencegahan dan pengendalian malaria sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
- Mengevaluasi implementasi Terapi Baru Primakuin sebagai terapi radikal untuk Malaria Vivax di 4 Puskesmas untuk memastikan kesesuaian pelaksanaan dengan pedoman terapi yang berlaku dan mengukur pencapaian terhadap 4 indikator kunci.
- Mengidentifikasi kendala dan tantangan yang dihadapi oleh petugas kesehatan dalam pelaksanaan program malaria dan terapi radikal malaria vivax, serta merumuskan rekomendasi perbaikan.
Ia menyebutkan peserta yang terlibat dalam kegiatan ini Dinas Kesehatan dan 5 Puskesmas yakni Timika, Timika Jaya, Wania, Pasar Sentral dan Bhintuka serta mitra lainnya.
Sementara Dr. Jeanne Rini Poespoprodjo, Sp.A, M.Sc, Ph.D dalam materinya menjelaskan berdasarkan data tujuh tahun terakhir menunjukkan jumlah kasus malaria di Mimika terus meningkat, dengan dominasi kasus malaria vivax.
Tahun 2019 terdapat 26.892 kasus atau 43% vivax, 2020 dengan 24.318 kasus atau 42% vivax, 2021 dengan 23.512 kasus atau 48% vivax, 2022 kembali naik 27.571 kasus atau 41% vivax, 2023 makin tinggi 31.891 kasus atau 45% vivax, 2024 juga meningkat 38.141 kasus atau 46% vivax dan 2025 sebanyak 50.017 kasus 49% vivax.
Ia menjelaskan mendukung upaya eliminasi diperlukan suatu program penguatan malaria difokuskan pada 5 puskesmas yakni Timika, Timika Jaya, Wania, Pasar Sentral, dan Bhintuka. Salah satu inovasi utama adalah keberadaan ‘pojok malaria’.
Ia menjelaskan keberadaan pojok malaria sesuai hasil evaluasi menunjukkan sejumlah dampak positif dari program ini, antara lain:
Pertama, terjadi penurunan signifikan kasus malaria berulang.
Kedua, pasien yang tidak mengakses Pojok Malaria memiliki risiko kambuh 2,6 kali lebih tinggi dalam 63 hari atau 17,5% dibandingkan yang mengakses Pojok Malaria menurun 5,9% pada fase awal April-Agustus 2020.
Tren serupa terjadi pada fase konsolidasi September 2020-Januari 2021.
Ketiga, peningkatan keterlibatan antara tenaga kesehatan dan pasien.
Pojok Malaria juga berfungsi sebagai layanan terpadu, meliputi:
Pertama, edukasi pentingnya minum obat sampai tuntas.
Kedua, pemberian DHP dan primakuin hari pertama.
Ketiga, rujukan ke kader untuk Pengawas Minum Obat (PMO).
Keempat, edukasi pemantauan warna urin selama konsumsi primakuin.
Kelima, melakukan deteksi kasus berulang.
Ia mengakui sesuai data menunjukkan bahwa minum obat langsung di Pojok Malaria mampu menurunkan rekurensi malaria vivax. Dimana risiko rekurensi tanpa primakuin di Pojok menurun 10,1%, risiko rekurensi dengan primakuin di Pojok 5,8% dan penurunan rekurensi mencapai 43%. Dengan demikian ia menyimpulkan sekitar 50-75% pasien tercatat minum DHP dan primakuin di Pojok Malaria.
Dr. Rini juga menyimpulkan bahwa beberapa poin penting hasil CQI antara lain:
Pojok Malaria masih aktif berjalan di 5 puskesmas.
Proporsi rekurensi Plasmodium vivax mengalami penurunan.
Minum obat di Pojok efektif menurunkan rekurensi P. vivax dan P. falciparum.
Rujukan ke kader untuk PMO masih berjalan meski ada hambatan.
Keberhasilan PMO oleh kader relatif stabil dan praktik komunikasi efektif belum konsisten diterapkan.
Selain itu, sistem pendukung seperti kartu malaria berbasis unique ID dan biometrik juga mulai diterapkan.
Sementara dr. Leoni dalam analisa data Pojok Malaria periode 2020-2023 menjelaskan temuan kunci Pojok Malaria diantaranya meningkatkan keterlibatan antara tenaga kesehatan dan pasien, Pojok Malaria sebagai paket lengkap, edukasi pentingnya minum obat sampai tuntas, minum DHP dan primakuin hari pertama, kemudian dirujuk ke kader untuk PMO.
Selain itu edukasi pemantauan warna urin selama satu minggu minum primakuin dan deteksi kasus berulang.
Ia menambahkan temuan kunci Pojok Malaria terjadi penurunan signifikan kejadian malaria berulang. Pasien malaria yang tidak ke Pojok 2,6x lebih mungkin kambuh malaria dalam 63 hari (17,5% versus 5,9%) pada fase awal (April-Agustus 2020).
Hal serupa pada fase konsolidasi (September 2020-Januari 2021)
Temuan Kunci Pojok Malaria
Pada Agustus-Desember 2023 sudah tidak berbeda signifikan.
Peningkatan praktik manajemen pasien (peresepan sesuai pedoman, kelengkapan data, dll) telah terintegrasi ke rutinitas layanan.
Peningkatan mutu dilakukan berkelanjutan, sehingga hasil yang baik dapat dipertahankan terbukti dengan angka kekambuhan secara keseluruhan menurun.
Faktor yang mempengaruhi efektivitas program. Pojok Malaria sebagai paket intervensi bukan komponen tunggal.
Ia menjelaskan supervisi dosis pertama penting dalam mendukung keberhasilan pengobatan, dengan edukasi sebagai komponen kunci penurunan kekambuhan pasien.
Faktor operasional dan akses (ketersediaan staf, jam layanan, dll) sangat mempengaruhi efektivitas Pojok Malaria.
Untuk bisa menilai keberhasilan program, pencatatan sangat penting (kelengkapan dan akurasi data didukung buku register Pojok).
Ia juga menyimpulkan bahwa keberadaan program Pojok Malaria merupakan pendekatan praktis yang sudah terbukti berkontribusi pada penurunan kekambuhan malaria.
Pojok Malaria berpotensi mendukung pengendalian malaria jangka panjang jika tantangan operasional dapat diatasi. **




























