DAD Mimika Tolak Klaim Sepihak Lenis Kogoya Atas Besi Tua di Areal Freeport
4. Menuntut Transparansi Pengelolaan Besi Scrap
DAD menuntut agar pengelolaan aset besi scrap, yang seringkali menjadi pemicu konflik, dikelola secara transparan dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat adat pemilik ulayat, bukan melalui yayasan yang diragukan kredibilitasnya oleh komunitas adat setempat.
Dewan Adat Daerah mengimbau seluruh pihak, termasuk PT Freeport Indonesia, untuk menghormati struktur adat yang ada dan menghindari kerja sama dengan pihak yang tidak memiliki legitimasi penuh dari masyarakat adat lokal.
5. Soal seluruh aset yang berkaitan dengan masayarakat adat dapat diselesasikan melalui mekanisme adat, baik itu dalam sidang adat lokal melalui sedang dewan adat suku asli yang memiliki wilayah dan struktur adat tersendiri.
6. Kami juga sampaikan kepada seluruh masayarakat adat Amungme dan Kamoro (AK) agar semua persoalan internal yang berkaitan dengan eksitensi masayarakat adat di wilayah adat suku Amungme dan Kamoto tidak perlu dibawah sampai ke orang luar. Hal-hal semacam ini berpontesi menimbulakan, melemahkan tatanan adat suku asli khususnya Amungme dan Kamoro atas tanah Amungsa Bumi Kamoro.
7. Dewan Adat Mimika minta Lenis Kogoya musti meminta maaf kepada dua suku besar masayarakat adat suku Amungme dan Kamoro karena telah melanggar aturan adat dan masuk ke rumah adat orang lain tanpa permisi. Lenis Kogoya sebagai anak adat yang berasal dari wilayah adat Lapago sudah sepatutnya menghormati dua suku besar dalam Honai mereka.
Vinsent meminta kepada seluruh anak-anak adat Papua yang sedang diberi kepercayaan oleh negara di pusat untuk selalu menghormati dan menghargai nilai-nilai adat di tanah Papua dari 7 wilayah adat.
Menurut Vinsent, anak Papua harus menjadi instrumen adat yang baik bagi kepentingan OAP di pusat.
“Saya, Vinsent Ondo Oniyoma sebagai anak asli Amungme, minta kepada Freport agar tetap berpegang pada komitmen antara suku Amungme dan Kamoro pada kemitraan yang terjalin,” katanya.
Ia menegaskan DAD Mimika sebagai lembaga representasi Amungme Kamoro dan 7 wilayah adat tidak akan diam.
“Kami akan selalu monitor. Kami hadir sebagai sebuah lembaga penyeimbang total di tengah masayarakat adat Papua di Kabupaten Mimika,” pungkasnya. **








