Timika,papuaglobalnews.com – Menghadapi potensi El-Nino sangat kuat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghimbau kepada masyarakat Mimika selalu waspadai kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Berdasarkan laporan yang dibuat oleh Muhamad Daffa Alifian yang diketahui Kepala BMKG Aji Supraptaji tertanggal 18 September 2026 mengenai informasi El-Nino dan sebaran hotspot tertanggal 17 September 2026 pukul 02.00 WIT sampai dengan 18 September 2026 pukul 02.00 WIT dilaporkan kondisi ENSO, nilai Southern Oscillation Index (SOI) tercatat sebesar -19,4, sedangkan indeks Nino 3.4 berada pada angka +2,51. Kedua indikator tersebut mengindikasikan kondisi El-Nino yang sangat kuat.

El-Nino diprediksi mulai aktif sejak periode Mei-Juni dan berpotensi masih menguat dalam beberapa bulan ke depan hingga akhir tahun. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Papua Tengah, termasuk Kabupaten Mimika.

Dampak El-Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau antara lain menurunnya intensitas hujan dan meningkatnya jumlah hari tanpa hujan, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya suhu udara pada siang hari, kondisi lahan yang semakin kering, serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Untuk kondisi hotspot, BMKG melakukan pemantauan berdasarkan tiga tingkat kepercayaan, yakni tingkat kepercayaan rendah, sedang, dan tinggi.

Tingkat kepercayaan rendah menunjukkan kemungkinan kecil adanya titik api sehingga masih perlu dipastikan lebih lanjut. Tingkat kepercayaan sedang menunjukkan kemungkinan cukup besar adanya titik api di lapangan, sedangkan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan kemungkinan besar adanya titik api aktif dan perlu segera ditindaklanjuti.

Berdasarkan hasil pemantauan hotspot pada 17 September 2026 pukul 02.00 WIT hingga 18 September 2026 pukul 02.00 WIT, tidak terdapat titik hotspot di wilayah Kabupaten Mimika.

Hasil pemantauan hotspot pada 18 September 2026 pukul 09.00 WIT juga menunjukkan Kabupaten Mimika tidak terdapat titik hotspot.

Meski demikian, masyarakat dan instansi pemerintah yang berwenang tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak kerugian akibat kemungkinan munculnya hotspot, serta terus memperhatikan perkembangan informasi hotspot dari BMKG.

Sementara itu, berdasarkan grafik perbandingan curah hujan, jumlah curah hujan bulanan yang terukur mengalami penurunan pada periode Juni hingga September 2026, terhitung sampai 17 September 2026.

Curah hujan tersebut memiliki selisih yang cukup signifikan atau lebih sedikit dibandingkan klimatologi atau kondisi normalnya.

Kondisi tersebut disebabkan oleh fenomena El-Nino yang memasuki fase moderat hingga sangat kuat dan diprakirakan berlangsung hingga awal tahun 2027.

Berdasarkan data pengamatan cuaca yang dilakukan di Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin, pada 17 September 2026 pukul 09.00 WIT hingga 18 September 2026 pukul 08.30 WIT, jarak pandang mendatar yang tercatat berkisar antara 4.000 hingga 8.000 meter.

Data metar Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin dengan kode ICAO WAYY menunjukkan kondisi cuaca yang bervariasi selama periode pengamatan.

Pada 17 September 2026 pukul 00.00 UTC, jarak pandang tercatat 8.000 meter dengan suhu 28 derajat celsius dan tekanan 1015 hPa. Suhu kemudian meningkat hingga mencapai 33 derajat celsius pada periode siang.

Memasuki sore hingga malam hari, jarak pandang berada pada kisaran 6.000 hingga 7.000 meter. Pada pukul 20.00 UTC, jarak pandang turun menjadi 4.000 meter dengan kondisi mist (BR).

Pada pukul 21.30 UTC, tercatat jarak pandang 4.000 meter disertai hujan (RA), kemudian pada pukul 22.00 hingga 22.30 UTC jarak pandang berada pada 5.000 meter dengan kondisi hujan.

Pada pukul 23.00 hingga 23.30 UTC, data METAR mencatat kondisi FU atau asap dengan jarak pandang 5.000 meter.

BMKG mengimbau informasi mengenai kondisi El-Nino dan sebaran hotspot tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah mitigasi terhadap berbagai dampak ikutan dari kondisi cuaca dan iklim tersebut.

Seiring menguatnya kondisi kering di sejumlah wilayah, masyarakat dan pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik panas (hotspot) serta potensi kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, hutan dan lahan kering.

Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin sehingga tidak meluas.

Instansi terkait juga diimbau meningkatkan patroli terpadu, melakukan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, serta memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di wilayah yang rawan karhutla.

Selain itu, ketersediaan sumber air dan peralatan pemadaman dini perlu dipastikan, termasuk mempersiapkan cadangan air untuk mendukung upaya pemadaman serta mengantisipasi kondisi musim kemarau.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api, asap atau kebakaran kepada instansi yang berwenang agar penanganan dapat dilakukan secara tepat. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.