Kokonao,papuaglobalnews.com – Selasa, 27 Oktober 2026, sekitar pukul 16.27 WIT, ponselku yang sedang diisi daya berdering. Panggilan masuk itu berasal dari Abdul Haris Sudharmono, Plt. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Mimika.

Dari balik ponselnya, Kadis Haris menginformasikan bahwa malam nanti, sekitar pukul 03.00 WIT, kami akan berangkat menuju Pomako untuk selanjutnya menuju Distrik Mimika Barat, Kokonao. Keberangkatan tersebut untuk mengikuti kegiatan pembinaan kelompok tani di Distrik Mimika Barat.

Saya pun menjawab, “Siap, abang.”

“Nanti sebentar malam saya kembali kontak untuk mengingatkan agar tidak ketiduran,” lanjut Kadis Haris.

Saya kemudian meminta agar dijemput sehingga kami bisa berangkat bersama-sama menuju Pomako. Kadis Haris menyanggupi dan akan meminta Okto, sopirnya yang juga merupakan pegawai DTPHP, untuk menjemput saya di Jalan Sam Ratulangi Ujung.

Pukul 00.00 WIT, saya tidur. Setelah lebih dari dua jam tertidur nyenyak, tepat pukul 02.43 WIT, ponsel yang sedang diisi daya kembali berdering kencang. Panggilan masuk itu dari Kadis Haris.

“Adik sudah siap? Kita sama-sama turun ke Pomako. Nanti Okto yang jemput,” tutur Kadis Haris.

Dari balik ponsel, dalam kondisi setengah mengantuk, saya menjawab, “Siap, abang.”

Saya kemudian buru-buru membasuh muka seadanya, lalu mengenakan jaket, celana panjang, dan sepatu.

Istriku, Maria Goreti Barowati, ikut bangun. Saya mengambil tas dan menuju ruang tamu untuk menunggu kabar dari Okto bahwa dirinya sudah tiba di titik penjemputan.

Sekitar 11 menit kemudian, tepat pukul 02.54 WIT, ponsel saya kembali berdering. Kali ini panggilan dari Okto yang menginformasikan bahwa dirinya sudah berada di titik penjemputan, tepatnya di depan Rumah Makan Kasihmurah.

Istri mengantarkan saya keluar menuju titik jemputan. Saya berpamitan dan mencium pipinya.

“Bapa, hati-hati,” pesan istriku.

Saya kemudian masuk ke mobil. Okto menjalankan kendaraan menuju perempatan Jalan Budi Utomo–Sam Ratulangi. Mobil melaju perlahan menyusuri Jalan Budi Utomo Ujung hingga tiba di lampu merah, lalu berjalan luru memasuki Jalan SMA Taruna untuk menjemput Kadis Haris di rumahnya.

Setibanya di sana, beberapa orang terlihat sedang membereskan bahan makanan (bama) ke dalam mobil pikap untuk dibawa dalam perjalanan.

Selang beberapa menit kemudian, Kadis Haris keluar dari rumah. Kami berdua bersalaman.

Kadis Haris mengungkapkan bahwa bersama keluarganya sudah delapan tahun tinggal di tempat tersebut. Saya tidak melanjutkan pertanyaan tentang tempat tinggalnya sebelum itu.

Kadis Haris menuturkan halaman rumahnya dipenuhi tanaman pohon dan bunga hias yang memberikan suasana sejuk dan hijau.

Beberapa menit kemudian, muncul Desi, Kasubag Keuangan DTPHP, bersama istri Kadis Haris. Kami bersalaman dan saling mengucapkan selamat pagi.

“Ibu tidak ikut, ya, Pak? Biasanya selalu sama-sama,” tanya Ibu Kasubag.

Saya menjawab singkat. Tidak ikut!

Kadis Haris kemudian mengajak saya melihat seekor anjing ras putih betina kesayangannya yang berada di dalam kandang besi di antara tembok pagar dan dinding rumah.

Anjing tersebut sudah bunting dan tinggal menunggu waktu untuk melahirkan. Jumlah anaknya diperkirakan cukup banyak. Puting susunya memang sudah terlihat penuh berisi susu. Saat melihat kami datang, anjing yang semula tidur itu bangun dan berdiri dengan jinak. Seolah ikut menyambut kami dengan kedua daun telinganya mengarah kedepan.

Kadis Haris mengatakan dirinya memiliki hobi memelihara anjing ras. Namun, biaya makanannya juga lumayan mahal karena anjing tersebut memiliki makanan sendiri atau makanan khusus.

Sekitar pukul 03.39 WIT, kami berpamitan untuk berangkat. Okto menghidupkan mesin mobil, memasukkan gigi persneling, lalu perlahan menekan pedal gas dan keluar dari lorong menuju jalan raya Budi Utomo Ujung–SP1.

Dalam perjalanan, Kadis Haris beberapa kali menghubungi anggota rombongan lainnya agar langsung menuju Pomako.

Setibanya di jembatan panjang pada pertigaan Logpon–Pelabuhan Rakyat (Pelra), mobil berbelok ke kiri menuju area parkir. Di tempat itu sudah ada mobil dan penumpang lainnya, termasuk pegawai DTPHP.

Di bawah sorotan remang-remang lampu dan cahaya senter, di bawah kolong jembatan terlihat tiga unit speedboat Papua Star Jaya berukuran besar dan sedang mengapit satu unit berukuran kecil yang tertambat pada besi.

Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, seluruh anggota rombongan tiba. Mereka bersama-sama mengangkat dan memindahkan karung pupuk kompos premium Trubus berukuran 10-15 kilogram ke dalam lambung speedboat Papua Star Jaya berkapasitas mesin 100 PK. Selanjutnya, bahan makanan juga dinaikkan.

Sementara itu, para penumpang menaiki speedboat Papua Star Jaya 07 bermesin 200 PK yang dikemudikan Engel.

Sebelum naik ke dalam lambung speedboat Papua Star Jaya, Lodowik, staf DTPHP, memimpin doa bersama untuk memohon penyertaan dan perlindungan Tuhan dalam perjalanan, sesuai tradisi Kristen Protestan. Semua yang hadir terdiam dalam suasana hening.

Usai berdoa, dalam suasana ceria di pagi buta, saya mengabadikan momen rombongan dalam satu frame menggunakan ponsel Androidku. Semua masuk. Mengambil posisi masing-masing.

Pukul 05.00 WIT, kami bertolak meninggalkan lokasi. Meski keadaan masih gelap, pancaran rona cahaya lampu dari kejauhan di sekitar kawasan Pomako menambah kehangatan suasana. Suara mesin Papua Star Jaya perlahan menderu semakin kencang, membelah keheningan sungai menuju laut.

Seorang anak buah kapal (ABK) mengambil posisi duduk di besi haluan dengan kedua kaki menyilang pada besi pengaman. Ia mengarahkan senter ke depan untuk memastikan jalur perjalanan bebas dari hambatan.

Desiran udara subuh yang dingin dan kencang menghantam tubuh. Beberapa pegawai yang duduk di bagian tengah, di luar lambung speedboat, mengabadikan sejumlah momen untuk diunggah sebagai story TikTok, status WhatsApp, dan postingan di dinding Facebook.

Engel, sang motoris, mengambil jalur potong melalui laut yang saat itu sedang teduh. Jarak pandang diperkirakan sekitar dua kilometer akibat kabut asap.

Setelah satu jam berlayar, tepat pukul 06.00 WIT, rombongan tiba dengan selamat di Pelabuhan Kokonao. Speedboat yang membawa bahan makanan menyusul kemudian.

Kesejukan udara segar sangat terasa. Dari kejauhan, sebelum tiba di pelabuhan, terlihat bangunan SPBU Subsidi Nelayan, rumah-rumah warga, serta salib berkorpus Yesus dari kayu hasil ukiran masyarakat Kokonao yang berdiri kokoh menghadap laut. Bangunan simbol keagamaan itu seolah menyambut kedatangan setiap orang yang turun di pelabuhan.

Air mulai surut. Perlahan-lahan daratan muncul, memperlihatkan punggungnya.

Beberapa burung bangau putih terbang bebas menikmati indahnya pagi dan segarnya udara sambil mencari jejak-jejak ikan sebagai mangsanya.

Di atas pelabuhan, denyut nadi perekonomian mulai terasa. Tiga unit kendaraan bermotor roda tiga yang lebih dikenal dengan sebutan bentor digunakan para buruh pelabuhan untuk mengangkut barang-barang kios yang akan diantarkan kepada pemiliknya. Barang-barang tersebut baru saja diturunkan dari Timika untuk dijual di Kokonao.

Di dermaga itu juga terlihat tumpukan karung berisi pasir untuk pembangunan yang didatangkan dari Timika.

Setelah selesai mengangkut barang-barang dagangan kios, kini giliran barang bawaan rombongan DTPHP yang diangkut.

Menyusuri Jalan Tua Kokonao

Meninggalkan pelabuhan. Etape pertama disambut Gapura Selamat Datang Kampung Atapo. Kami berjalan kaki menuju Kantor Distrik Lama untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatan.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan rabat semen yang kondisinya memprihatinkan. Permukaan jalan sudah terkupas dan berlubang. Pengendara bentor pun memilih berjalan pelan ketika melewati jalan tersebut.

Di sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan warga juga anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan penuh semangat.

Di pintu masuk Kampung Atapo terdapat sebuah buldoser di sisi kiri dan Toko Mimika di sisi kanan. Kedua benda bersejarah tersebut menjadi aset cagar budaya yang dilindungi oleh negara berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sebagaimana tercantum pada papan nama yang dipasang Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Di Kokonao, kota tua yang menyimpan banyak jejak sejarah, upaya mempercantik dan membenahi kawasan ini membutuhkan keberpihakan politik yang kuat serta sentuhan tangan penguasa.

Kota tua yang dahulu menjadi pusat peradaban pendidikan, pelayanan agama Katolik oleh para perintis dari Kepulauan Amboina dan Misionaris Barat, serta pelayanan kesehatan ini kini menyimpan banyak persoalan krusial yang perlu mendapat perhatian serius pemerintah.

Dari rahim Kokonao tak dipungkiri telah lahir banyak generasi hebat yang sukses di bidang masing-masing. Sebut saja almarhum John Philip Saklil, Pr., tokoh penting Gereja Katolik sebagai Uskup Timika pertama, serta Bupati Mimika Johannes Rettob dan sejumlah tokoh penting lainnya yang membaktikan diri di bidang eksekutif, gereja, dan legislatif.

Mereka menjadi bukti nyata bahwa Kokonao telah memberikan buah manis bagi perjalanan pembangunan dan kehidupan masyarakat Mimika.

Kokonao merupakan kota tua yang dipenuhi tanaman pohon kelapa dan memiliki tujuh kampung, yakni Atapo, Kiura, Mimika, Migiwia, Kokonao, Apuri, dan Aparuka.

Wilayah yang kini dipimpin Christian P. Warinussy ini dikelilingi aliran sungai sehingga kerap mengalami bencana banjir rob atau pasang air laut.

Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Mimika Semester I Tahun 2026, jumlah penduduk Distrik Mimika Barat yang berpusat pemerintahan di Kokonao tercatat sebanyak 2.916 jiwa.

Rumah-rumah warga maupun kantor pemerintahan umumnya dibangun menggunakan konstruksi kayu besi dengan model rumah panggung atau berkolong. Bahkan, agar lebih tahan terhadap pelapukan akibat terendam air pasang, tiang-tiang bangunan fasilitas pemerintah dibuat menggunakan sistem cor beton.

Banjir Rob dan Krisis Air Bersih

Selain persoalan banjir rob dan kondisi jalan rabat yang mulai rapuh, warga di tujuh kampung juga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan minum dan memasak.

Meskipun hidup dikelilingi air dan kerap menghadapi banjir rob, masyarakat masih bergantung pada air hujan untuk memenuhi kebutuhan air minum, memasak, serta mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.